PERHATIAN BAI USER
diberitahukan kepada USER bahwa Website berita sepekan berubah menjadi :
http://www.beritasepekan.o-f.com.
SILAHKAN MENCOBANYA
diberitahukan kepada USER bahwa Website berita sepekan berubah menjadi :
http://www.beritasepekan.o-f.com.
SILAHKAN MENCOBANYA
Seorang calon pegawai diwawancarai oleh petugas personalia
Personalia : Siapa nama anda?
Calon Peg. : Badru Pak.
Personalia : Coba ceritakan keluarga anda
Calon Peg. : Saya dua bersaudara, adik kuliah di Bandung, orangtua
tinggal di Solo, kakek Dan nenek tinggal di Medan, paman
di Jakarta.
Personalia : Apakah anda bisa berbahasa Inggris?
Calon Peg. : Yes Sir
Personalia : OK, now tell me about your family in English!
Calon Peg. : Sorry Sir, I don’t have family in English!
Personalia : Ha? Payah……
Di dalam got yang gelap hiduplah dua ekor tikus yang saling bersaudara. Suatu saat kedua ekor tikus ini melihat sebuah roti keju dari lubang sebuah selokan. Tikus-tikus ini ingin sekali memakannya tetapi sayang lubang selokan itu tertutup oleh jeruji besi yang sangat kuat. Kedua tikus ini berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji besi itu dengan gigi-gigi mereka yang tajam tetapi gigi mereka mulai rusak karena jeruji besi itu terlalu keras bagi gigi mereka yang kecil. Kedua ekor tikus ini kecapaian, dan butuh istirahat. Tikus pertama berkata dalam hatinya: “Aku tidak akan menyerah, setelah ini aku akan menghancurkan jeruji besi itu dengan sekuat tenagaku. Pantang menyerah adalah pangkal dari keberhasilan !” Tikus kedua termenung dan berpikir : ” Aku akan kehilangan semua gigiku jika aku nekat menggigiti jeruji itu. Ada baiknya kalau aku mengambil jalan lain saja untuk mendapatkan roti keju itu.” Setelah beristirahat sejenak, tikus pertama mulai menggigiti lagi jeruji besi itu dengan sekuat tenaga sedangkan tikus kedua mundur diri dari usahanya. Melihat tikus kedua mundur diri tikus pertama mulai mengejek saudaranya itu katanya : “Kamu itu sifatnya mudah menyerah dan tidak ulet bekerja, mana mungkin kamu bias berhasil dalam kehidupanmu?” Tikus kedua tidak mempedulikan ejekan saudaranya, dia mundur mencari jalan lain ke tempat roti keju itu. Akhirnya tikus kedua berhasil memperoleh jalan ke tempat roti keju itu sedangkan tikus pertama kelelahan dan hancur giginya karena menggigiti jeruji besi itu.
————————————————–
Teman-teman cerita ini merupakan cerita yang agak kontradiktif tetapi yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah hendaklah kita memakai kejelian dan kecerdasan kita untuk memecahkan masalah kita dan bukan hanya mengandalkan keuletan dan kerajinan kita untuk bekerja. Pantang menyerah cukup baik, tetapi jika tanpa kecerdasan semuanya sia-sia, maka pakailah kecerdasan kita.
Sesuatu yang putih akan lebih putih kelihatannya kalau dikontraskan dengan yang hitam. Sesuatu yang baik akan lebih nyata kebaikannya jika diperbandingkan dengan sesuatu yang buruk. Demikian pula: cinta akan akan lebih kuat rasanya bila dipertentangkan dengan pengkhianatan.
Rasanya di mana ada cinta selalu ada pula pengkhianatan. Juga sebaliknya: di mana ada pengkhianatan, di sana bisa tumbuh cinta yang cemerlang. Itu dapat kita dengar pula dalam Injil hari ini. Bukan kebetulan Yohanes menulis pengkhianatan Yudas Iskariot pada awal Injil hari ini, dimana diwartakan tentang pemuliaan Putera Manusia dan tentang perintah baru, “Saling mencintai”. Pengkhianatan Yudas menurut Injil ini merupakan alasan bagi penderitaan dan kematian Yesus. Kegagalan Yudas lebih mempertegas keagungan rencana Allah yang tidak gagal karena kegagalan manusia. Tanpa pengkhianatan Yudas maka tidak ada salib, tetapi juga tidak ada kebangkitan dan kemuliaan. Ini yang mau disampaikan oleh Yohanes walau tidak riil. Dengan Yesus Kristus yang mau memulai hidup baru dengan kesengsaraan ternyata mulai dibuka masa baru yaitu kebangkitan dan kemuliaan.
Pengalaman ini akan tetap dialami pula oleh Gereja-Nya. Dalam Gereja akan tetap ada pengkhianatan, tetapi juga cinta. Cinta ini harus menandai hidup para murid-Nya, walaupun akan selalu “ditantang” oleh pelbagai pengkhianatan.
Dalam perang kemerdekaan Irlandia Utara seorang pejuang Irlandia berhasil membunuh seorang tokoh berpengaruh di Inggris. Tetapi kemudia ia dikhianati oleh kawan seperjuangannya, sehingga ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman mati digantung. Menjelang hari hukuman matinya, berulang kali ia menolak bapa pengakuan penjara itu, karena ia tidak bisa mengaku, ia tidak bisa mengampuni pengkhianatnya.
Pada suatu hari seorang biarawati datang kepadanya dan biarawati itu meminta pendapatnya karena ia mau keluar dari biara sebab ia sangat mengalami kesulitan untuk memaafkan seseorang yang telah membunuh saudaranya. Siapa saudara biarawati itu? Ia adalah tokoh berpengaruh di Inggris yang telah dibunuh oleh pejuang Irlandia yang sekarang berada di hadapannya.
Pejuang itu diam lalu berkata: “Saya mohon Suster jangan meninggalkan biara, panggilkan bapa pengakuan, karena sekarang saya mau memaafkan kawan yang mengkhianatiku dan saya mau mengaku dosa. Sebagai seorang kristiani saya harus mencintainya!
Pejuang itu akhirnya mengerti. Ia berlapang hati untuk memaafkan dan mencintai saudara seperjuangannya seperti seperti suster itu yang mau bersusah-susah berusaha supaya ia dapat menjalani hukuman matinya tanpa dendam di hati dan dengan demikian mungkin di selamatkan. Suster itu telah menunjukkan perhatian dan kasihnya yang tulus, walaupun orang yang di depannya itu telah membunuh saudaranya.
Di Masa Paska lilin Paska, lambang Kristus yang telah bangkit, diberi tempat terhormat di bagian altar, supaya dilihat semua orang. Di kaki lilin kita melihat salib, salib kemenangan Kristus. Di atasnya dan dibawah Alpha dan Omega, permulaan dan akhir abjad Yunani dan di kelilingnya angka tahun. Yang terakhir sebagai tanda bahwa kebangkitan Kristus bukan saja satu peristiwa di masa yang lampau tetapi berarti untuk hidup kita di tahun 2007 juga. “Kristus dahulu dan sekarang, awal dan akhir, milikNyalah segala masa”, kata imam waktu memberkati lilin. Waktu itulah sesuatu yang cepat berlalu. Kata sekarang belum diucap, masa sekarang sudah, menjadi masa lampau dan tidak ada lagi. Sejarah manusia ialah ceritera tentang segala sesuatu yang pernah terjadi dan tidak ada lagi. Tetang sejarah itu dapat ditulis buku2 yang tebal, tetapi sebenarnya dapat diringkas dalam tiga kata saja: “Mereka lahir, mereka berjuang (susah) dan mereka mati”. Itulah riwayat hidup manusia: lahir, susah dan mati. Sungguh menyedihkan nasib manusia, kalau demikian: Ia lahir untuk bersusah dan tidak ada masa depan. Syukur, kita umat Allah punya keyakinan lain, lebih dari itu: ada masa depan dan masa depan itu cerah dan penuh kegembiraan. Paska membuktikannya. Yesus tidak hanya lahir, menderita dan mati; lalu habislah riwayatnya. Yesus bangkit, Ia hidup. Sengsara dan kematianNya bukan akhir riwayatnya, tetapi permulaan hidup yang baru. Allah tidak membiarkan Yesus dalam kekuasaan maut. Allah tidak menciptakan manusia untuk lahir, menderita, lalu mati; manusia diciptakan, supaya hidup dan setiap orang yang percaya kepadaNya akan hidup, biar Ia sudah mati. Kemenangan Yesus atas dosa dan maut membuka pintu menuju kehidupan, kehidupan abadi jauh dari dosa dan penderitaan, penuh kebahagiaan. Kita tidak usah mereasa putus asa pada masa yang sulit, kalau sakit dan menderita, dalam masa krisis ekonomi seperti sekarang, malahan maut tidak menakutkan lagi. Bagi seorang yang beriman selalu ada masa depan: Kebangkitan Kristus membuka masa depan yang cerah. Toh kita harus berhati-hati dan jangan menipu diri. Kita minipu diri, kalau mengira bahwa di tengah segala kesulitan hidup dan segala masalah dunia dan zaman, kita dapat duduk saja, menunggu sampai hidup yang lebih bahagia diberikan kepada kita. Ingat, kebangkitan Yesus tidak datang begitu saja; kebangkitanNya ialah hasil dari sengsara dan kematianNya. Dan sengsara dan kematianNya bukan satu nasib payah yang tidak dapat dihindari, tetapi puncak dari suatu perjuangan untuk membangun kerajaan surga di dunia ini. Suatu dunia tanpa kekerasan, tanpa kerakusan dan tanpa kejahatan diperjuangkan, satu dunia yang berdasar pada cinta yang tahu kasih, dimana setiap orang dapat hidup bahagia tanpa kurang apa2. Ia konsekwen sampai akhir. Ia tidak takut menegur yang bersalah, ia membuka kemunifikan hati orang yang tak jujur, ia melawan segala yang tidak adil. Dalam perkataan dan perbuatan Ia mengutamakan orang yang kecil, yang sederhana, malahan orang yang berdosa. Ia tidak mundur, ketika itu tidak diterima dengan baik oleh orang yang tertentu. Ia mati untuk umat manusia. Percaya akan Yesus yang bangkit tidak berarti menunggu sampai kita dibebaskan dari dunia ini. Tetapi berarti menghadap dunia, berjuang untuk mengubahnya, menghantam segala yang tidak baik dan tidak adil, baik dalam diri sendiri, maupun dalam dunia luas, menanamkan damai dan membagi kebahagiaan. Dan itu importune - opportune, orang senang atau tidak dengan apa yang kita buat. Tidak gampang, itu menuntut keberanian dan pengorbanan banyak; lain kali kita mungkin putus asa dan bertanya mengapa berpusing, toh tidak ada gunanya. Lalu kita melihat pada Yesus: rupanya percuma segala sesuatu yang diwartakan dan dibuatnya; gagal semuanya, ketika Ia bergantung di salib. Tetapi lihatlah: Ia bangkit dengan mulia: kebaikan tidak dapat dikalahkan; yang berbuat baik akan menang. Kepercayaan akan kebangkitan Yesus harus memenuhi kita dengan semangat baru untuk mengikuti Kristus dalam hidup sehari-hari. Kerajaan surga yang diwartakaNya bukan satu illusi, dunia ini dapat diubah, asal ada orang yang mau mengubahnya.
Rekan-rekan yang budiman!
Tidak ada laporan bagaimana persisnya kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan saatnya dan siapa-siapa yang pertama melihat peristiwa itu. Jalannya peristiwa akan tetap tersembunyi, hanya jejak-jejak peristiwa itu sajalah yang dapat dikenali. Namun demikian, ada pokok yang mendasari kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit. Yang pertama ialah makam yang kosong dan yang kedua ialah keyakinan orang-orang yang terdekat bahwa ia tidak lagi berada di antara orang mati. Amat besar peran kesaksian orang-orang yang datang mencari dia yang tadinya wafat dan dimakamkan seperti disampaikan dalam Luk 24:1-12 (Malam Paskah); Yoh 20:1-9 (Minggu Paskah pagi ); dan Luk 24:13-35 (Minggu Paskah sore).
INJIL MALAM PASKAH: Luk 24:1-12
Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu beberapa wanita datang ke makam membawa wewangian. Mereka menemukan batu penutup makam sudah tergolek. Tidak juga mereka mendapati jenazah Yesus (Luk 24:1-3). Mereka hanya menjumpai dua orang yang pakaiannya berkilau-kilauan yang menyapa, “Mengapa mereka mencari dia yang hidup di tempat orang mati. Ia tidak ada di sini, ia telah bangkit!… Itulah penjelasan mengenai makam yang kosong tadi.
Lukas menyebut “dua sosok”, Mrk 16:5 dan Mat 28:2 berbicara mengenai “seorang malaikat”, Yohanes bahkan tidak menyebutnya samasekali. Juga ada perbedaan mengenai siapa yang datang ke kubur. Lukas mencatat, wanita-wanita itu ialah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Luk 24:10); Mrk 16:1 menyebut tiga orang wanita, tetapi yang bernama Yohana menurut Lukas ialah Salome dalam Markus, Matius hanya menyebutkan dua wanita, yaitu Maria Magdalena dan Maria “yang lain”. Yoh 20:1 hanya menyebutkan Maria Magdalena.
Pembaca atau pendengar Injil tidak diharapkan menjadi detektif yang bertugas melacak jalannya peristiwa yang satu kepada yang lain. Injil mengajak orang mendengarkan kesaksian orang-orang yang sudah percaya akan kebangkitan dan ikut menikmati bagaimana mereka memandangi diri mereka sendiri selama mengalami peristiwa-peristiwa itu. Pengalaman tak selalu jelas (menyangkut berapa orang melihat makam kosong, siapa, dst.), tetapi menentu (bahwa makam memang kosong).
Kembali ke kisah Lukas mengenai wanita-wanita yang menemukan makam yang kosong dan menjumpai dua sosok yang pakaiannya berkilauan (Luk 24:4). Pembaca tulisan Lukas segera akan teringat ungkapan “dan tiba-tiba ada dua sosok”, Yunaninya “kai idou andres duo”, yang muncul dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:30) dan nanti peristiwa kenaikan Yesus ke surga (Kis 1:10). Pembaca dibawa serta memandangi dua sosok yang muncul di dalam tiap peristiwa itu. Dua sosok Perjanjian Lama, Musa dan Elia, tampil dalam kemuliaan berbicara dengan Yesus mengenai tujuan perjalanannya. Kemudian di makam, ada dua sosok yang berpakaian kemilau itu berkata kepada para wanita yang datang ke makam tadi bahwa Yesus telah bangkit - ia hidup dan tidak lagi berada di antara orang mati. Dan dalam peristiwa kenaikan Yesus ke surga, ketika para murid masih memandangi langit, ada dua sosok yang berpakaian putih muncul dan mengatakan bahwa Yesus akan kembali lagi dengan cara yang sama. Jelas Lukas bermaksud membuat pendengarnya ikut mengalami betapa mengesannya peristiwa-peristiwa itu. Seperti halnya mereka yang mengalami peristiwa tadi, entah itu ketiga murid Yesus entah itu para wanita yang mengunjungi makam atau orang-orang Galilea yang memandangi langit, pembaca tentu membutuhkan waktu untuk menggarap pengalaman ini. Orang akan memikirkan kembali, mengingat-ingat, mencari maknanya, dan mengheraninya, menyukainya. Itulah jalan tumbuhnya iman kepercayaan akan Dia yang telah bangkit pada diri wanita-wanita tadi.
Menurut Luk 24:6-7 kedua sosok itu mengingatkan para wanita tadi akan pemberitaan sengsara kematian dan kebangkitan oleh Yesus sendiri ketika masih di Galilea. Dan dikatakan dalam ayat 8 bahwa mereka teringat akan perkataan Yesus tadi. Sekarang mereka menemukan bahwa dia yang dulu mereka ikuti sehari-hari dan memberitakan tentang dirinya itu sama dengan yang kini telah bangkit. Pemberitahuan yang dulu sukar diterima dan sulit dimengerti itu kini jelas maknanya. Tidak dikatakan mereka itu memperoleh penampakan Yesus yang telah bangkit. Namun mereka sampai pada pengertian itu juga ketika diingatkan oleh kedua sosok tadi.
APA YANG DIALAMI PETRUS?
Maka wanita-wanita itu pergi mendapatkan kesebelas murid Yesus dan semua saudara yang lain dan menceritakan semua itu. Tentunya yang mereka sampaikan ialah pengalaman akan Yesus yang sudah bangkit seperti dikatakan olehnya sendiri dulu. Bagi para murid, kisah para wanita itu terdengar sebagai omong kosong belaka (ayat 11). Namun Petrus mau memeriksa benar tidaknya dan segera pergi ke makam. Di situ ia hanya mendapati kain kafan saja. Ia kemudian pulang heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi (ayat 12). Apakah ia melihat Yesus yang bangkit?
Ayat 12 ini tidak didapati di dalam naskah-naskah tua yang penting. Namun bacaan liturgi sudah lama menerima ayat ini sebagai bagian Injil Lukas dan oleh karenanya dapat diandaikan memang berasal dari tradisi yang dikenal Lukas sendiri. Memang terasa sebagai tambahan atas dasar kisah kebangkitan Yoh 20:3-10, khususnya bagian yang menceritakan “murid yang lain” yang dialihkan kepada Petrus dalam Luk 24:12 ini. Di lain pihak ungkapan “(Petrus) bangun” dan “yang telah terjadi” memang kerap muncul dalam Lukas.
Nanti dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon.” Tapi Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1 Kor 15:5 Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rasa-rasanya memang dengan sengaja Lukas hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi.” (Yunaninya, “thaumazoon to gegonos”). Pendengar Injil diajak ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya saja yang ada di situ. Petrus akan sampai kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.
INJIL MINGGU PASKAH (PAGI): Yoh 20:1-9
Menurut Injil Yohanes, pada hari perama minggu itu, pagi-pagi benar, Maria Magdalena datang ke makam Yesus. Ia melihat batu penutup telah diambil dari kubur. Segera ia berlari mendapatkan Petrus dan murid lain yakni “murid yang dikasihi” Yesus dan menyampaikan berita bahwa Yesus diambil orang dan tak diketahui di mana sekarang. Maka Petrus dan murid yang lain itu berlari ke makam. Murid yang lain tadi sampai terlebih dahulu, menjenguk ke dalam kubur dan melihat kain kafan terletak di tanah. Petrus juga datang, lalu masuk dan mendapati juga kafan terletak di tanah, tapi kain peluh terlihat di tempat lain. Kedua murid ini mendapati makam kosong. Kesimpulan pembaca Injil: dia sudah bangkit. Seandainya jenazahnya cuma dipindahkan atau disembunyikan, mestinya kafan dan kain peluh tidak dilepas dan ditinggalkan di makam.
Murid yang lain, yang tadi ada di luar itu, menyusul masuk ke makam, dan disebutkan, “ia melihatnya”, maksudnya, ia melihat bekas-bekas Yesus di situ, tapi kini sudah bangkit. Ditambahkan dalam ay. 8, “Dan ia percaya.” Pengalaman pembaca Injil Yohanes dulu masih bisa kita ikuti pula. Ia akan pertama-tama menyimpulkan bahwa Yesus sudah bangkit dan baru sejenak kemudian percaya, seperti murid yang lain tadi. Ini cara berkisah Yohanes yang melibatkan pembaca. Ia membuat siapa saja yang mengikuti kisahnya merasa seolah-olah ikut berlari ke makam, dan boleh jadi datang mendahului Petrus dan bahkan murid yang dikasihi itu sendiri. Dan mendahului percaya Yesus sudah bangkit!
Mari kita bandingkan dengan Injil Lukas. Dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon”. Akan tetapi, Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1Kor 15:5, Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun demikian, apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rupa-rupanya Lukas sengaja hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi”. Lukas mengajak pembaca ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya masih di situ. Begitulah Petrus nanti juga sampai pada kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.
INJIL MINGGU PASKAH (SORE): Luk 24:13-35
Dalam konteks kisah kebangkitan Lukas (Luk 24:1-12), ditekankan pengalaman para perempuan di makam yang kosong yang teringat akan perkataan Yesus dahulu. Juga digambarkan pengalaman Petrus menemukan makna peristiwa ini seperti disinggung di atas. Dua jalan itu membawa mereka sampai pada keyakinan bahwa Yesus telah bangkit.
Ada jalan lain, yakni penampakan, seperti yang dialami kedua murid yang menuju Emaus yang diceritakan di dalam Luk 24:13-35. Kedua murid itu tidak segera menyadari bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Bagi mereka, Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Jadi, sepanjang perjalanan itu kedua murid tadi “membaca kembali” warta Kitab Suci mengenai Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Akan tetapi, saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup. Kesadaran inilah yang membuat mereka bergegas mengabarkan kepada kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.
Satu hal lagi. Kedua murid yang berjalan ke Emaus itu disertai oleh dia yang telah bangkit dalam ujud yang tidak segera mereka kenali. Perjumpaan dengan orang yang tak dikenal, tapi dalam suasana dialog tadi menjadi jalan yang setapak demi setapak membuat mereka siap mengenali siapa dia itu sesungguhnya. Banyak perjumpaan yang memperkaya batin yang tak segera disadari. Biarkan dia sendiri yang ada dalam pengalaman itu menunjukkan diri. Dan saat itu juga mereka - kita juga - akan menyadari kenapa tadi “hati kita berkobar-kobar…!” (ay. 32).
Sumber : http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=3910
Pernah ada seorang calon biarawati yang dianjurkan oleh pemimpinya, supaya keluar dari biara. Ia sangat kecewa. Ia telah masuk biara dengan semangat besar, sebab ia ingin menemukan dan merasakan kedamaian dekat Tuhan bersama dengan suster-suster yang baik hati. Ia merasa bahwa hidupnya dirumah dan tempat kerja tidak enak dan tidak tenteram. Di rumah ibu bapaknya sering cecok dan hubungannye dengan kakak-adik tidak tanpa persoalan. Ia telah bekerja di salah satu kantor dan merasa kurang enak melihat praktek-praktek di situ, korupsi dan manipulasi dan rupa-rupa permainan. Ia tertekan, dan berharap dalam biara ia bisa menemui ketenteraman dan kedamaian. Tetapi aduh, di biara juga menemui percecokan, ketegangan dan rupa-rupa permainan, suster-suster tidak sesuci ia harapkan dan dalam doa juga ia mengalami kesulitan. Ia menjadi kecewa dan tidak menemui ketenteraman. Pemimpinnya menasehati, biara bukan tempat yang cocok untuknya; biara itu bukan tempat untuk melarikan diri dari tantangan dan hambatan.
Ada sesuatu yang aneh juga. Pada waktu mengalami kesulitan orang yang berumahtangga sering berpikir: enaklah hidup seorang dalam biara, tidak usah hidup bersama dengan isteri yang cerewet atau suami yang lekas marah, dengan anak-anak yang merepotkan; lagi dalam keadaan krisis seperti sekarang mereka itu tidak usah takut tidak ada makanan. Sebaliknya seorang biarawan lain kali berpikir, lebih-lebih pada waktu mengalami kesulitan: enaklah hidup berkeluarga, dicintai seorang suami atau isteri yang penuh kesayangan, senang-senang dengan anak-anak, tidak ditekan dengan rupa-rupa aturan dan tuntutan. Rumput diseberang jalan selalu kelihatan lebih hijau dan lebih enak; sapi yang diikat pada sebelah kanan dari jalan, pasti rindu menyeberang.
Tetapi tidak ada surga di bumi; dimanapun kita hidup kita akan menemui kegembiraan dan kesusahan, suka dan duka selalu tercampur; tak ada kebahagiaan tanpa ada perjuangan. Begitu gampang kita terpukul dan membiarkan diri terbanting karena kesusahan. Alangkah bagus kalau dalam segala kesulitan kita dapat melihat juga segala keberuntungan kita dan berkat yang dinikmati: biar suamiku lain kali marah, namun ia rajin dan keluarga kita tidak kekurangan; biar isteriku cerewet, namun masakannya enak-enak dan ia mengurus rumah tangga dengan baik; anak-anak merepotkan, namun memberikan kegembiraan juga; dan biar dalam biara saya merasa tertekan karena peraturan-peraturan dan karena pengawasan dan kritik teman-teman, tetapi hidup ini tenang, ada banyak yang berhati baik juga dan masa depanku terjamin. Hidup akan menjadi jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan, kalau kita lebih menghargai sekian banyak hal yang menghibur dan memgembirakan. Beruntunglah kita, biar ada kesusahan.
Kesulitan yang kita alami tidak boleh menutup mata kita untuk segalanya, tetapi juga tidak boleh membuat kita lari dari kenyataan dan mencari kedamaian dan ketenangan yang palsu. Itu dinyatakan dalam Injil. Yesus dan para rasul harus turun dari gunung dan Petrus tidak diizinkan mendirikan kemah dan bertinggal di gunung Tabor. Yesus harus pergi ke Yerusalem, di Yerusalem musuh-musuhnya sudah bersiap untuk menangkapnya; pergi ke Yerusalem berarti pergi menghadap sengsara dan kematian. Hati Yesus penuh kekecewaan dan ketakutan. Untuk sementara Yesus dan para rasul dapat melihat bahwa sengsara dan kematian bukan akhir semuanya: melalui sengsara dan kematian Ia akan masuk dalam kehidupan dan penghinaan akan menghantar kepada kemuliaan. Tetapi sesudah itu mereka harus menghadap kenyataan hidup yang payah dan pedih. Bagus juga, kalau dalam kesulitan kita juga dapat melihat bahwa itu bukan akhir semuanya, dan kita dapat percaya bahwa Allah beserta kita dan akan menghantar kita melalui kegelapan masuk terang. Apa juga yang menimpa kita, selalu ada masa depan bagi seorang yang percaya kepada Tuhan.
Saudara-saudara, tidak ada surga di dunia; suka dan duka tercampur dan silih berganti; tetapi surga itu bisa dibangun, itulah kabar gembira Yesus: itu mungkin. Tuhan menjamin, tetapi itu tidak mungkin tanpa pengorbanan dari pihak kita. Kita orang kristen seharusnya orang yang paling bahagia, sebab kita tahu, betapa susahpun masih ada pengharapan, sebab Tuhan menjadi pengharapan kita. Tetapi iman yang sama mengajak kita bekerja keras menghadapi segala tantangan, sebagaimana yang telah Yesus perbuat.
Setiap hari, dalam perjalanan pulang dari kantor, aku mempunyai ritual yang sangat menyenangkan. Perjalanan yang macet membuatku harus melewati ‘jalan tikus’ yang sempit. Tapi di jalan itulah aku justru menemukan kesenangan baru yang selalu membuat aku dan suamiku tersenyum. Di pertigaan yang sempit, di teras sebuah rumah, ada seorang penjual sate ayam yang rupanya cukup laris karena kulihat pembelinya cukup banyak setiap sorenya. Nah..ketika melewati penjual sate di pertigaan tersebut, mobil kami harus berbelok perlahan. Saat itulah kubuka kaca jendelaku dan langsung berhamburan masuk aroma sate ayam yang sangat harum ke dalam mobilku. Makin lama kaca jendelaku kubuka, maka makin banyak pula aroma harum yang masuk. Aroma sate ayam kesukaanku, yang bisa membuat perutku menagih untuk diisi. Suamiku selalu tersenyum melihat aku yang sangat menikmati aroma itu, karena dia sendiri sebetulnya tidak suka sate ayam. Saat itu hanya aromanya saja yang bisa kunikmati, karena mobil kami tidak mungkin berhenti untuk parkir hanya untuk membeli makanan kesukaanku itu. Tak apalah, pikirku. Toh nanti aku dapat membelinya di tukang sate langgananku yang dekat dengan rumahku
Hingga pada suatu sore, kulihat seorang anak lelaki kecil penjual koran yang berbaju lusuh, berdiri tak jauh dari tukang sate tersebut. Badannya begitu kurus dan dekil. Sesekali matanya menatap penjual sate dan para pembelinya, tapi dia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Aku yakin dia pasti juga sedang menikmati aroma sate itu, sama seperti aku. Tapi kami berbeda dalam banyak hal. Aku bisa membeli sate itu setelah pulang, atau mungkin membeli makanan lain yang kusuka juga. Uang di dompetku cukup untuk membeli sate bagi diriku sendiri, anak-anakku di rumah dan juga bagi anak kecil penjual koran tersebut. Tapi anak itu, pasti di otaknya masih sibuk berpikir. Kalau aku membeli sate, untung yang kudapat dari hasil menjual koran pasti berkurang. Berarti uang yang harus kuberikan kepada ibuku juga berkurang. Berarti ibuku juga harus mengurangi jatah belanjaannnya untuk membeli makanan buatku dan saudara-saudaraku. Tegakah aku? Hanya demi seporsi sate yang kuinginkan? Betapa dia harus menahan keinginannya sedemikian rupa. Itu yang ada di pikiranku ketika melihat dia, anak lelaki kecil penjual koran, yang berdiri di dekat tukang sate.
Aku tetap membuka kaca jendela dan membiarkan aroma itu masuk seperti biasanya. Tapi kini kuhirup dengan rasa pedih. Aku bisa menikmati sate itu, tidak hanya aromanya, tanpa rasa khawatir. Tapi anak lelaki kecil itu, mungkin dia hanya bisa menikmati aromanya saja.
Malam harinya, kulihat sebuah acara yang menarik di televisi. Tentang hipnotis. Seorang penghipnotis yang bisa membuat banyak orang berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan sang penghipnotis itu, hanya dengan mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Sungguh hebat! Tapi sungguh mengerikan, mengingat banyak kejahatan juga yang sudah terjadi karena hipnotis. Kemudian aku berpikir, maukah sang penghipnotis itu melakukan keahliannya dengan tujuan yang lebih baik. Misalnya dia menghipnotis aku, supaya aku berpikir dan bertindak seperti anak lelaki kecil penjual koran yang tadi kulihat. Mungkin aku bisa lebih memahami penderitaannya, kesedihannya, kemiskinannya, keterbatasannya. Mungkin dengan begitu aku lebih mampu berempati. Tapi kupikir itu semua juga akan sia-sia. Karena setelah aku sadar dari pengaruh hipnotis itu, maka aku akan segera lupa apa yang sudah terjadi selama aku dihipnotis. Dan itu artinya, aku juga akan lupa bahwa tadi aku sempat menghayati penderitaan sesamaku, meski cuma sebentar. Jadi, perlukah aku dihipnotis? Hanya sekedar untuk melihat bahwa masih banyak kemiskinan dan penderitaan di sekitarku? Apakah dalam keadaan sadar, aku tak bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri? Ataukah mata hatiku telah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini, dimana aku harus berpantang dan berpuasa, aku masih harus berpikir-pikir kesenangan macam apa yang akan menjadi pantanganku. Kadang-kadang kusiasati juga supaya aku tak terlalu ‘menderita’ di masa pra paskah ini. Padahal masa ini begitu singkatnya, hanya seperberapa dalam satu tahun.
Hati nuraniku rupanya harus lebih kuasah lagi. Hati nurani yang kadang tumpul melihat banyaknya anak-anak terlantar di jalan, anak-anak yang sudah harus berjuang dalam hidup ini. Bahkan hati nurani ini kadang hanya bisa menangis melihat penderitaan kaum miskin yang kebingungan mencari hutangan untuk mengobati sanak keluarganya yang terserang demam berdarah, wabah yang sedang melanda negeriku tercinta ini. Dan kematian pun menjemput karena tak ada sepeserpun uang untuk berobat ke dokter. Hati nurani yang hanya bisa menjerit ketika darah pun diperjualbelikan di atas penderitaan sesama. Selalu ada celah untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hati nurani telah mati.
Aku ada di sini, di depan komputer dan mengetikkan sesuatu yang sangat menyedihkan. Penderitaan. Kemiskinan. Pengendalian diri. Keterbatasan. Kematian. Hati nurani. Tumpul. Sungguhkah hati nuraniku sudah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini? Mengerikan. Bagaimana jadinya di masa-masa bukan pra paskah?
Tanya:
Romo, banyak orang Katolik pergi ke gereja diliputi perasaan tertekan. Mungkin telah terjadi pertengkaran hebat di satu rumah atau ada tarik-menarik karena beda agama, atau karena sakit yag dipaksakan, dsb.
Menurut Romo, apakah doa-doa dan persembahan hati dan jiwa mereka dalam perayaan Ekaristi dapat berkenan pada Tuhan. Atau dapatkah kita tidak usah ke gereja karena keberatan-keberatan tsb.?
Jawab:
Pertama, kita menyadari betapa berharganya rahmat yang dilimpahkan Tuhan melalui Sakaramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi dihadirkan kembali seluruh hidup Yesus, terutama sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Ekaristi adalah Sakramen paling istimewa di atara 7 sakramen. Ibarat kita akan menerima hadiah 1 Milyar rupiah, apakah akan kita sia-siakan begitu saja dengan tidak dating menerimanya hanya karena alasan sepele seperti hati tertekan, pertengkaran, ada tamu, sakit ringan dsb?
Kedua, Gereja memang meminta umatnya untk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi (1 Kor 11:28). Persiapan ini menyangkut seluruh diri manusia, yaitu hati, jiwa, akal budi (Bdk. Hukum terutama, Mat.22:37). Maka jika ada dosa-dosa berat atau mematikan, seseorang perlu mengakukan dosanya terlebih dahulu sebelum menerima Tuhan dalam Ekaristi. Perlu diingat bahwa Allah itu sedemikian mulia sehingga sebenarnya kita tidak pernah sungguh-sungguh pantas untuk menerima-Nya. Kita juga tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Karena itu, dalam pertemuan dengan Tuhan dalam Ekaristi, iman kitalah yang berperan memohon Roh Kudus berdoa untuk kita dengan kata-kata yang tak terucapkan (Roma 8:26). Hati yang tidak enak akibat pertengkaran atau karena baru menerima tamu, kita letakkan di samping terlebih dahulu, supaya dengan iman kita mampu membuka hati dan menerima kedatangan Tuhan.
Pertemuan dengan Tuhan bukan soal perasaan. Maka jangan biarkan perasaan yang kacau balau, kering, dan seolah-olah hampa sama sekali, membuat kita menarik diri atau menghindari Tuhan. Dalam bagian “persembahan”, kita justru bisa mempersembahkan seluruh keadaan actual kita kepada Tuhan dan berkeluh kesah kepada-Nya. Yang diperlukan adalah iman. Perlu diingat bahwa sakramen-sakramen bukan hanya mengandaikan iman, tetapi juga memupuk dan meneguhkan iman. Sakrame dimaksudkan juga untuk menguduskan manusia. Karena itu, asalkan kita berkehendak baik dan sudah berusaha sebaik mungkin, maka kekurangsiapan kita atau perasaan yang kacau balau justru akan ‘diluruskan’ oleh rahmat Tuhan. Maka, kita bisa mengambil hikmah dari perkataan sang perwira: “Tuhan, saya tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahku, katakana saja sepatah kata, maka jiwaku akan sembuh”.
Ketiga, iman priadi ini kita satukan dengan iman Gereja dalam Ekaristi. “Iman Gereja mendahului iman perorangan. Bersatu dengan iman Gereja iman kita akan diperkuat, diperteguh dan dikembangkan.
Seorang kaya bertanya kepada pastornya: “ Romo, mengapa orang menyebut saya pelit sementara mereka semua tahu bahwa jika aku mati nanti, aku akan mewariskan semua yang aku miliki pada Gereja?”
Pastor itu menjawab: “Saya akan ceritakan padamu sebuah perumpamaan tentang seekor babi dan seekor sapi. Babi termasuk binatang yang kurang disukai orang, sedang sapi disayangi banyak orang. Hal ini membuat si babi bingung, ia berkata kepada sapi: “Orang selalu memuji badanmu yang bagus dan matamu yang bening. Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab tiap hari kau memberi mereka susu dank rim. Tapi bagaimana dengan aku? Aku telah memberi mereka daging panggang dan ham. Aku telah menyediakan bulu-bulu untuk membuat sikat, bahkan mereka telah mencincang kakiku, tapi kenapa tak seorang pun menyukai aku, kenapa demikian?” “Tahukah kamu apa jawaban si sapi?” Tanya pastor kepada orang kaya itu. “Sapi itu mengatakan demikian, ‘barangkali karena saya memberikan apa yang saya miliki ketika saya masih hidup, sedang kamu memberikan apa yang kamu miliki saat sudah mati.”
Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here