Turun dari gunung

February 28, 2007

Pernah ada seorang calon biarawati yang dianjurkan oleh pemimpinya, supaya keluar dari biara. Ia sangat kecewa. Ia telah masuk biara dengan semangat besar, sebab ia ingin menemukan dan merasakan kedamaian dekat Tuhan bersama dengan suster-suster yang baik hati. Ia merasa bahwa hidupnya dirumah dan tempat kerja tidak enak dan tidak tenteram. Di rumah ibu bapaknya sering cecok dan hubungannye dengan kakak-adik tidak tanpa persoalan. Ia telah bekerja di salah satu kantor dan merasa kurang enak melihat praktek-praktek di situ, korupsi dan manipulasi dan rupa-rupa permainan. Ia tertekan, dan berharap dalam biara ia bisa menemui ketenteraman dan kedamaian. Tetapi aduh, di biara juga menemui percecokan, ketegangan dan rupa-rupa permainan, suster-suster tidak sesuci ia harapkan dan dalam doa juga ia mengalami kesulitan. Ia menjadi kecewa dan tidak menemui ketenteraman. Pemimpinnya menasehati, biara bukan tempat yang cocok untuknya; biara itu bukan tempat untuk melarikan diri dari tantangan dan hambatan.
Ada sesuatu yang aneh juga. Pada waktu mengalami kesulitan orang yang berumahtangga sering berpikir: enaklah hidup seorang dalam biara, tidak usah hidup bersama dengan isteri yang cerewet atau suami yang lekas marah, dengan anak-anak yang merepotkan; lagi dalam keadaan krisis seperti sekarang mereka itu tidak usah takut tidak ada makanan. Sebaliknya seorang biarawan lain kali berpikir, lebih-lebih pada waktu mengalami kesulitan: enaklah hidup berkeluarga, dicintai seorang suami atau isteri yang penuh kesayangan, senang-senang dengan anak-anak, tidak ditekan dengan rupa-rupa aturan dan tuntutan. Rumput diseberang jalan selalu kelihatan lebih hijau dan lebih enak; sapi yang diikat pada sebelah kanan dari jalan, pasti rindu menyeberang.
Tetapi tidak ada surga di bumi; dimanapun kita hidup kita akan menemui kegembiraan dan kesusahan, suka dan duka selalu tercampur; tak ada kebahagiaan tanpa ada perjuangan. Begitu gampang kita terpukul dan membiarkan diri terbanting karena kesusahan. Alangkah bagus kalau dalam segala kesulitan kita dapat melihat juga segala keberuntungan kita dan berkat yang dinikmati: biar suamiku lain kali marah, namun ia rajin dan keluarga kita tidak kekurangan; biar isteriku cerewet, namun masakannya enak-enak dan ia mengurus rumah tangga dengan baik; anak-anak merepotkan, namun memberikan kegembiraan juga; dan biar dalam biara saya merasa tertekan karena peraturan-peraturan dan karena pengawasan dan kritik teman-teman, tetapi hidup ini tenang, ada banyak yang berhati baik juga dan masa depanku terjamin. Hidup akan menjadi jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan, kalau kita lebih menghargai sekian banyak hal yang menghibur dan memgembirakan. Beruntunglah kita, biar ada kesusahan.
Kesulitan yang kita alami tidak boleh menutup mata kita untuk segalanya, tetapi juga tidak boleh membuat kita lari dari kenyataan dan mencari kedamaian dan ketenangan yang palsu. Itu dinyatakan dalam Injil. Yesus dan para rasul harus turun dari gunung dan Petrus tidak diizinkan mendirikan kemah dan bertinggal di gunung Tabor. Yesus harus pergi ke Yerusalem, di Yerusalem musuh-musuhnya sudah bersiap untuk menangkapnya; pergi ke Yerusalem berarti pergi menghadap sengsara dan kematian. Hati Yesus penuh kekecewaan dan ketakutan. Untuk sementara Yesus dan para rasul dapat melihat bahwa sengsara dan kematian bukan akhir semuanya: melalui sengsara dan kematian Ia akan masuk dalam kehidupan dan penghinaan akan menghantar kepada kemuliaan. Tetapi sesudah itu mereka harus menghadap kenyataan hidup yang payah dan pedih. Bagus juga, kalau dalam kesulitan kita juga dapat melihat bahwa itu bukan akhir semuanya, dan kita dapat percaya bahwa Allah beserta kita dan akan menghantar kita melalui kegelapan masuk terang. Apa juga yang menimpa kita, selalu ada masa depan bagi seorang yang percaya kepada Tuhan.
Saudara-saudara, tidak ada surga di dunia; suka dan duka tercampur dan silih berganti; tetapi surga itu bisa dibangun, itulah kabar gembira Yesus: itu mungkin. Tuhan menjamin, tetapi itu tidak mungkin tanpa pengorbanan dari pihak kita. Kita orang kristen seharusnya orang yang paling bahagia, sebab kita tahu, betapa susahpun masih ada pengharapan, sebab Tuhan menjadi pengharapan kita. Tetapi iman yang sama mengajak kita bekerja keras menghadapi segala tantangan, sebagaimana yang telah Yesus perbuat.

Aroma Pra Paskah

Setiap hari, dalam perjalanan pulang dari kantor, aku mempunyai ritual yang sangat menyenangkan. Perjalanan yang macet membuatku harus melewati ‘jalan tikus’ yang sempit. Tapi di jalan itulah aku justru menemukan kesenangan baru yang selalu membuat aku dan suamiku tersenyum. Di pertigaan yang sempit, di teras sebuah rumah, ada seorang penjual sate ayam yang rupanya cukup laris karena kulihat pembelinya cukup banyak setiap sorenya. Nah..ketika melewati penjual sate di pertigaan tersebut, mobil kami harus berbelok perlahan. Saat itulah kubuka kaca jendelaku dan langsung berhamburan masuk aroma sate ayam yang sangat harum ke dalam mobilku. Makin lama kaca jendelaku kubuka, maka makin banyak pula aroma harum yang masuk. Aroma sate ayam kesukaanku, yang bisa membuat perutku menagih untuk diisi. Suamiku selalu tersenyum melihat aku yang sangat menikmati aroma itu, karena dia sendiri sebetulnya tidak suka sate ayam. Saat itu hanya aromanya saja yang bisa kunikmati, karena mobil kami tidak mungkin berhenti untuk parkir hanya untuk membeli makanan kesukaanku itu. Tak apalah, pikirku. Toh nanti aku dapat membelinya di tukang sate langgananku yang dekat dengan rumahku
Hingga pada suatu sore, kulihat seorang anak lelaki kecil penjual koran yang berbaju lusuh, berdiri tak jauh dari tukang sate tersebut. Badannya begitu kurus dan dekil. Sesekali matanya menatap penjual sate dan para pembelinya, tapi dia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Aku yakin dia pasti juga sedang menikmati aroma sate itu, sama seperti aku. Tapi kami berbeda dalam banyak hal. Aku bisa membeli sate itu setelah pulang, atau mungkin membeli makanan lain yang kusuka juga. Uang di dompetku cukup untuk membeli sate bagi diriku sendiri, anak-anakku di rumah dan juga bagi anak kecil penjual koran tersebut. Tapi anak itu, pasti di otaknya masih sibuk berpikir. Kalau aku membeli sate, untung yang kudapat dari hasil menjual koran pasti berkurang. Berarti uang yang harus kuberikan kepada ibuku juga berkurang. Berarti ibuku juga harus mengurangi jatah belanjaannnya untuk membeli makanan buatku dan saudara-saudaraku. Tegakah aku? Hanya demi seporsi sate yang kuinginkan? Betapa dia harus menahan keinginannya sedemikian rupa. Itu yang ada di pikiranku ketika melihat dia, anak lelaki kecil penjual koran, yang berdiri di dekat tukang sate.
Aku tetap membuka kaca jendela dan membiarkan aroma itu masuk seperti biasanya. Tapi kini kuhirup dengan rasa pedih. Aku bisa menikmati sate itu, tidak hanya aromanya, tanpa rasa khawatir. Tapi anak lelaki kecil itu, mungkin dia hanya bisa menikmati aromanya saja.
Malam harinya, kulihat sebuah acara yang menarik di televisi. Tentang hipnotis. Seorang penghipnotis yang bisa membuat banyak orang berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan sang penghipnotis itu, hanya dengan mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Sungguh hebat! Tapi sungguh mengerikan, mengingat banyak kejahatan juga yang sudah terjadi karena hipnotis. Kemudian aku berpikir, maukah sang penghipnotis itu melakukan keahliannya dengan tujuan yang lebih baik. Misalnya dia menghipnotis aku, supaya aku berpikir dan bertindak seperti anak lelaki kecil penjual koran yang tadi kulihat. Mungkin aku bisa lebih memahami penderitaannya, kesedihannya, kemiskinannya, keterbatasannya. Mungkin dengan begitu aku lebih mampu berempati. Tapi kupikir itu semua juga akan sia-sia. Karena setelah aku sadar dari pengaruh hipnotis itu, maka aku akan segera lupa apa yang sudah terjadi selama aku dihipnotis. Dan itu artinya, aku juga akan lupa bahwa tadi aku sempat menghayati penderitaan sesamaku, meski cuma sebentar. Jadi, perlukah aku dihipnotis? Hanya sekedar untuk melihat bahwa masih banyak kemiskinan dan penderitaan di sekitarku? Apakah dalam keadaan sadar, aku tak bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri? Ataukah mata hatiku telah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini, dimana aku harus berpantang dan berpuasa, aku masih harus berpikir-pikir kesenangan macam apa yang akan menjadi pantanganku. Kadang-kadang kusiasati juga supaya aku tak terlalu ‘menderita’ di masa pra paskah ini. Padahal masa ini begitu singkatnya, hanya seperberapa dalam satu tahun.
Hati nuraniku rupanya harus lebih kuasah lagi. Hati nurani yang kadang tumpul melihat banyaknya anak-anak terlantar di jalan, anak-anak yang sudah harus berjuang dalam hidup ini. Bahkan hati nurani ini kadang hanya bisa menangis melihat penderitaan kaum miskin yang kebingungan mencari hutangan untuk mengobati sanak keluarganya yang terserang demam berdarah, wabah yang sedang melanda negeriku tercinta ini. Dan kematian pun menjemput karena tak ada sepeserpun uang untuk berobat ke dokter. Hati nurani yang hanya bisa menjerit ketika darah pun diperjualbelikan di atas penderitaan sesama. Selalu ada celah untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hati nurani telah mati.
Aku ada di sini, di depan komputer dan mengetikkan sesuatu yang sangat menyedihkan. Penderitaan. Kemiskinan. Pengendalian diri. Keterbatasan. Kematian. Hati nurani. Tumpul. Sungguhkah hati nuraniku sudah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini? Mengerikan. Bagaimana jadinya di masa-masa bukan pra paskah?

Perasaan Tertekan

Tanya:
Romo, banyak orang Katolik pergi ke gereja diliputi perasaan tertekan. Mungkin telah terjadi pertengkaran hebat di satu rumah atau ada tarik-menarik karena beda agama, atau karena sakit yag dipaksakan, dsb.
Menurut Romo, apakah doa-doa dan persembahan hati dan jiwa mereka dalam perayaan Ekaristi dapat berkenan pada Tuhan. Atau dapatkah kita tidak usah ke gereja karena keberatan-keberatan tsb.?

Jawab:
Pertama, kita menyadari betapa berharganya rahmat yang dilimpahkan Tuhan melalui Sakaramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi dihadirkan kembali seluruh hidup Yesus, terutama sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Ekaristi adalah Sakramen paling istimewa di atara 7 sakramen. Ibarat kita akan menerima hadiah 1 Milyar rupiah, apakah akan kita sia-siakan begitu saja dengan tidak dating menerimanya hanya karena alasan sepele seperti hati tertekan, pertengkaran, ada tamu, sakit ringan dsb?
Kedua, Gereja memang meminta umatnya untk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi (1 Kor 11:28). Persiapan ini menyangkut seluruh diri manusia, yaitu hati, jiwa, akal budi (Bdk. Hukum terutama, Mat.22:37). Maka jika ada dosa-dosa berat atau mematikan, seseorang perlu mengakukan dosanya terlebih dahulu sebelum menerima Tuhan dalam Ekaristi. Perlu diingat bahwa Allah itu sedemikian mulia sehingga sebenarnya kita tidak pernah sungguh-sungguh pantas untuk menerima-Nya. Kita juga tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Karena itu, dalam pertemuan dengan Tuhan dalam Ekaristi, iman kitalah yang berperan memohon Roh Kudus berdoa untuk kita dengan kata-kata yang tak terucapkan (Roma 8:26). Hati yang tidak enak akibat pertengkaran atau karena baru menerima tamu, kita letakkan di samping terlebih dahulu, supaya dengan iman kita mampu membuka hati dan menerima kedatangan Tuhan.
Pertemuan dengan Tuhan bukan soal perasaan. Maka jangan biarkan perasaan yang kacau balau, kering, dan seolah-olah hampa sama sekali, membuat kita menarik diri atau menghindari Tuhan. Dalam bagian “persembahan”, kita justru bisa mempersembahkan seluruh keadaan actual kita kepada Tuhan dan berkeluh kesah kepada-Nya. Yang diperlukan adalah iman. Perlu diingat bahwa sakramen-sakramen bukan hanya mengandaikan iman, tetapi juga memupuk dan meneguhkan iman. Sakrame dimaksudkan juga untuk menguduskan manusia. Karena itu, asalkan kita berkehendak baik dan sudah berusaha sebaik mungkin, maka kekurangsiapan kita atau perasaan yang kacau balau justru akan ‘diluruskan’ oleh rahmat Tuhan. Maka, kita bisa mengambil hikmah dari perkataan sang perwira: “Tuhan, saya tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahku, katakana saja sepatah kata, maka jiwaku akan sembuh”.
Ketiga, iman priadi ini kita satukan dengan iman Gereja dalam Ekaristi. “Iman Gereja mendahului iman perorangan. Bersatu dengan iman Gereja iman kita akan diperkuat, diperteguh dan dikembangkan.

Seekor Sapi dan Babi

Seorang kaya bertanya kepada pastornya: “ Romo, mengapa orang menyebut saya pelit sementara mereka semua tahu bahwa jika aku mati nanti, aku akan mewariskan semua yang aku miliki pada Gereja?”
Pastor itu menjawab: “Saya akan ceritakan padamu sebuah perumpamaan tentang seekor babi dan seekor sapi. Babi termasuk binatang yang kurang disukai orang, sedang sapi disayangi banyak orang. Hal ini membuat si babi bingung, ia berkata kepada sapi: “Orang selalu memuji badanmu yang bagus dan matamu yang bening. Mereka pikir engkau sangat dermawan, sebab tiap hari kau memberi mereka susu dank rim. Tapi bagaimana dengan aku? Aku telah memberi mereka daging panggang dan ham. Aku telah menyediakan bulu-bulu untuk membuat sikat, bahkan mereka telah mencincang kakiku, tapi kenapa tak seorang pun menyukai aku, kenapa demikian?” “Tahukah kamu apa jawaban si sapi?” Tanya pastor kepada orang kaya itu. “Sapi itu mengatakan demikian, ‘barangkali karena saya memberikan apa yang saya miliki ketika saya masih hidup, sedang kamu memberikan apa yang kamu miliki saat sudah mati.”

Godaan

February 24, 2007

Permintaan mendesak dari Keuskupan di Selatan sampai pada Keuskupan Agung di utara. Ia meminta seorang imam yang bijak dan suci dan siap dengan pelayanan dan bapa rohani bagi seminari tinggi. Setiap orang heran bahwa Uskup Agung di utara mengirim 5 frater diakon yang siap ditahbiskan menjadi imam. Uskup Agung Utara berkata: “ Imam di sini sangat terbatas, maka saya kirim 5 frater diakon yang siap ditahbiskan, nanti sesudah ditahbiskan silahkan Uskup memilih salah satu dari mereka itu”. Para frater itu sudah menempuh perjalanan selama beberapa hari, ketika seorang kurir menghampiri mereka. “Kami sudah 3 tahun lebih tidak punya pemimpin. Desa ini sering ada rampok dan huru hara. Masyarakat tidak tenang. Tidak ada yang bersedia memimpin desa ini lagi. Kami mendambakan seorang pemimpin yang mampu membuat hidup masyarakat ini tenang”. Salah seorang frater, yang hebat dalam ilmu bela diri dan punya kemampuan intelektual yang tinggi, merasa terdorong untuk tinggal dan memimpin desa itu. “Aku bukan murid Kristus yang sejati kalau aku tidak tinggal di sini dan melayani mereka”. Niat baik ini disambut warga. Ia tidak melanjutkan perjalanannya. Beberapa hari kemudian tibalah mereka di rumah seorang kepala suku, yang tertarik pada salah seorang frater. “Tinggalah di sini”, kata kepala suku dan aku akan memberikan putriku kepadamu. Dan jika aku mati nanti, engkaulah yang mengganti aku menduduki kepla suku ini”. Hati frater ini tertarik pada putrid yang cantik dan pada jabatan kepala suku. Ia berkata: “Apakah ada kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan peri kehidupan di sini daripada menerima kedudukan kepala suku? Aku bukan murid Kristus yang sejati jika aku tidak membagikan kehidupanku bagi suku ini dan memajukan kehidupan mereka”. Ia tidak melanjutkan perjalanan. Tiga frater masih melanjutkan perjalanan. Pada suatu malam, di sebuah pegunungan, mereka menginap di sebuah gubuk yang hanya didiami oleh seorang gadis manis. Ia menerima mereka dengan ramah. Ia bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah mempertemukannya dengan para frater ini. Orang tua gadis itu baru meninggal 1 minggu yang lalu karena dibunuh rampok dan kini ia tinggal sendirian penuh ketakutan. Keesokan harinya, pada waktu mereka mau berangkat, seorang frater berkata: “Aku akan tinggal bersama gadis ini. Aku bukan murid Kristus yang sejati, kalau aku tidak berbelas kasih pada sesame”. Ia tidak melanjutkan perjalanan. Dua frater yang masih sisa akhirnya tiba di sebuah kampung kristiani. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa semua penduduk meninggalkan agama dan imannya dan berada di bawah pengaruh keyakinan lain. Seorang frater berkata: “Demi umat yang malang ini, aku harus tinggal di sini dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar yang pernah mereka imani dulu. Dia tidak melanjutkan perjalanan. Frater yang kelima akhirnya sampai di keuskupan selatan dan di sana ia ditahbiskan menjadi imam dan diminta oleh Uskup menjadi Bapa Rohani di seminari tinggi. Seorang guru kebijaksanaan dan olah rohani berkata: Beberapa tahun yang lalu aku bertekad mencari Tuhan. Berkali-kali aku berhenti di jalan. Selalu maksudku sangat mulia: Untuk memperbaharui ibadat, untuk memperbaharui jemaat, untuk meningkatkan tafsir KS, untuk meningkatkan amal kasih, untuk mengembangkan teologi yang berarti bagi umat dsb. Sayang, lebih mudah menenggelamkan diri dalam karya apa pun bahkan dalam karya keagamaan daripada bertahan terus mencari Tuhan. Dalam hidup ini kita sering mengalami berbagai cobaan dan godaan. Sering godaan-godaan itu tidak jahat, pada dasarnya baik dan bernilai. Tetapi hal-hal itu menjadi tidak baik, kalau kita mulai memutlakkannya dan mengabaikan hal-hal atau nilai-nilai yang lebih penting, lebih pokok, ialah Kerajaan Allah. Pada zaman ini kita mengalami banyak hal yang saling berbenturan. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak mudah menjaga kedekatannya dengan tuhan, apalagi mengalami bahwa Allah sebenarnya tetap hadir di tengah-tegah manusia. Kita dihadapkan pada kecenderungan untuk menukar nilai-nilai Kerajaan Allah dengan tawaran yang menjanjikan seperti: kekuasaan, kenikmatan, dan harta. Mari kita bersama Yesus tetap mengutamakan Allah dalam hidup seperti yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Manusia tidak hanya hidup dari makanan saja, tetapi dari Sabda Allah…. Engkau harus menyembah Allah saja…. Jangan mencobai Tuhan Allahmu…..”

Spritualitas
Psikologi godaan dan cara mengatasi godaan
Baca: manusia pertama digodai. Kej 3
Jelas sekali strategi godaan yang dipakai iblis dan yang mengakibatkan kehancuran umat
manusia. Coba kita menarik beberapa kesimpulan dari kejadian itu.
a. Si penggoda mendekati manusia. Tidak selalu ada di samping kita seperti Malaekat Pelindung. Dalam Injil (Lk 4,13) kita baca bahwa setelah iblis menggodai Yesus ia mundur meninggalkanNya. Terkadang ia tiba-tiba muncul untuk menggodai; sering mendekat secara lihai dan licik dan menawarkan godaan melalui pertanyaan yang meyakinkan jiwa.
b. Melontarkan pertanyaan dengan halus. ”mengapa Allah melarang kamu memakan buah dari pohon firdaus ini?”. Dia tidak langsung menggoda, tetapi mengarahkan diskusi ke arah yang berbahaya dimana kita mudah kalah! Inilah cara iblis mengoda, selalu! Ia belum mengajak melakukan dosa, Cuma mempertanyakan larangan dari Allah. Contoh: dengan orang yang mudah jatuh dalam godaan sensualitas ia bertanya: “apakah benar Allah melarang sama sekali mencicipi kepuasaan itu? Dengan orang yang tidak tahan makanan ía bertanya: apakah saudara tidak boleh menikmati makanan itu? Apa salahnya? Itu semua alami… saudara butuh makanan yang bergizi. Dll.
c. Jawaban jiwa. Kalau jiwa menyadari bahaya dialog ini dan mengarahkan perhatiannya ke yang lain, maka iblis akan meninggalkan kita. Tetapi kalau jiwa mulai berbicara menghadapi bahaya besar. “Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kamu makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-rengah taman, Allah berfirmun: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati (Kej 3,6-7).” Perempuan itu sebenamya sudah tahu bahwa tidak boleh itu dan ini, tetapi masih dipersoalkan… berarti meragukan hukum Tuhan, disepelekan…..
d. Lalu Iblis Iangsung menawarkan dosa. Jiwa telah membuang waktu untuk mempersoalkan hukum Tuhan, maka iblis menjadi berani dan menawarkan dosa. ‘Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang Jahat!.” Disini terletak kelicikan iblis yang selalu mengatakan bahwa di belakang dosa terdapat kebahagiaan (kalau kamu makan, kamu tahu tentang yang baik dan yang jahat! Tidak pernah iblis rnemperlihatkan racun di belakang dosa. Paling paling nanti bisa mengaku…! Kalau jiwa menerima tawaran ini, sudahlah nasibnya bagaimana…
e. Keraguan. Dikatakan dalam kutipan tadi: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon ilu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipulu pohon itu menarik hati karena memberi pengertian”. Hati mulai gemetar, jiwa tidak mau melanggar hukum Tuhan, tetapi buah itu sangat menarik… Perlawanan ini terlalu berat bagi jiwa, ia tidak bisa tahan lama.
f. Kemauan kita mau… “Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Jiwa akhirnya menyerah kepada godaan. Dan kadang-kadang menjerumuskan orang lain dalam dosa.
g. Kekecewaan. Kenyataan dosa bahwa tidak pernah dosa itu akan sebagus seperti nampak selama godaan. Setelah melakukan dosa, jiwa merasakan kekecewaan besar dan keputusasaan. “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.” Akhirnya jiwa menyadari bahwa ia kehilangan segala-galanya, ia kelihatan telanjang di hadapan Allah. Tanpa Rahmat, tanpa keutamaan-keutamaan, tidak lagi menjadi kediaman pantas Trinitas. Dalam kekecewaan total ini hanya iblis yang meringis dengan senang…
h. Malu dan penyesalan. Terakhir jiwa mendengar suara hati yang menegur. “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Jiwa merasa malu dihadapan Tuhan maka bersembunyi.

Sikap konkrit behadapan godaan.
Penting sikap jiwa - sebelum, selama dan sesudah - godaan. Sikap yang tepat akan membantu kita melawan godaan dan mengalahkan iblis.
Sebelumnya: Sikap ini dinasehatkan oleh Yesus sendiri: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mt 2641). Yaitu kewaspadaan dan doa.
Kewaspadaan: Iblis tidak pernah berhenti mencoba, ia tidak pernah putus asa (Sesudah iblis mengakhiri semua pencobaa itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik – Luk. 4: 13). Kesempatan apapun dimanfaatkannya, karena itu kita harus menjauhkan kesempatan yang ia tawarkan. Harus selalu mengendalikan diri. Tetapi kewaspadaan ini sendiri belum cukup, diperlukan
Doa: Kewaspadaan harus didukung oleh doa. Ketika para rasul gagal mengusir iblis, meeka bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak bisa, Yesus menjawab: ”Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa ( Mrk. 9:28). Memohon agar tidak jatuh dalam godaan (Bapa Kami). Malaekat pelindung diberikan untuk itu.
Selama. Hanya bertahan dan melawan. Tidak cukup bertahan tetapi harus juga melawan godaan. Bertahan dengan melakukan kebalikannya dari yang ditawarkan iblis. Contoh: godaan
mau menjelekkan orang dilawan dengan: puji orang. Mau mencuri, berilah sedekah. Dll. Kita melawan juga dengan mengarahkan perhatian kita ke yang lain. Kalau dengan demikian godaan tidak hilang…….. itulah bukti hahwa kita sedang berperang melawan si iblis, maka harus tetap bertahan.
Setelah. Dua kemungkinan
Kalau kita menang: kita bersyukur kepada Tuhan dan memohon lagi rahmatnya untuk selanjutnya.
Kalau kita kalah: dengan rendah hati memohon ampun kepada Tuhan dan mengaku dosa.

Adil Dan Penuh Kasih

Alkisah sebuah cerita mengenai seorang jenderal wanita yang bernama jenderal Shameela. Suatu ketika saat ia memimpin sepasukan untuk berperang diperbatasan, komandannya melaporkan bahwa bahan makanan mereka telah dicuri. setelah berpikir cukup lama sang jenderal akhirnya mengambil keputusan kalo pencurinya harus dicari dan dihukum cambuk ! ternyata selidik punya selidik pencurinya adalah ibu sang jenderal. jenderal Shameela dengan berat tetap memutuskan bahwa hukuman besok akan tetap dilaksanakan. anak buahnya bertambah segan padanya karena jenderal tersebut terkenal dengan keadilannya. besoknya saat upacara hukuman akan dimulai, ia mendekati para algojo dan memberitahu mereka untuk menghukum sesuai dengan peraturan. saat cambuk itu dilayangkan, sang jenderal memeluk mamanya sehingga jenderal Shameela yang terkena cambukannya itu. begitulah kasih Kristus buat kita. selain adil, ia juga penuh kasih. apabila manusia tahu berbuat yang terbaik untuk orang yang disayangi apalagi Tuhan kita Yesus Kristus. saat aku kehilangan pegangan dan kehilangan cinta, cerita ini kembali menguatkan aku ! semoga dengan demikian, para saudara-saudariku dalam Kristus semoga cerita ini dapat menguatkanmu ! Tuhan memberkati kita semua

Salah Sambung

Orang tua Mumut heran ngeliat anak gadisnya yang betah banget ngobrol di telfon. Kadang-kadang sampe lupa mandi tuh si Mumut gara-gara ngebelain untuk ngobrol di telfon …
Pada suatu hari dimeja makan tiba-tiba telfon berdering dan tanpa basa-basi Mumut langsung melompat lari mo ngangkat tuh telfon…
Mamanya kaget bukan main sampe-sampe tuh nasi yang rencananya mo dimasukin kemulut jadi berbelok ke hidung…
Setelah 2 jam, Mumut kembali kemeja makan…
Orang tua Mumut jadi heran dan saling pandang karena biasanya tuh anak paling sebentar 4 jam baru selesai ngobrolnya….
” Kok tumben Mut , cuma dua jam… siapa tadi yang telfon ?” tanya mamanya
” Tau’ tuh salah sambung…..” jawab mumut polos

Asal Mula Masa Prapaskah

February 20, 2007

Masa Prapasakah merupakan masa istimewa untuk berdoa, bertobat, bermatiraga dan melakukan karya belas kasihan sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah. Dalam kerinduannya untuk memperbaharui praktek-praktek liturgi Gereja, Konstitusi tentang Liturgi Kudus Konsili Vatikan II menyatakan, "Dua ciri khas Masa Prapaskah - mengenang atau mempersiapkan pembaptisan, dan membina tobat - haruslah diberi penekanan yang lebih besar dalam liturgi dan dalam katekese liturgi. Masa Prapaskah merupakan sarana Gereja dalam mempersiapkan umat beriman untuk merayakan Paskah, sementara mereka mendengarkan Sabda Tuhan dengan lebih sering dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa." (no. 109). Sejak masa awal Gereja, terdapat bukti akan adanya semacam masa persiapan menyambut Paskah. Sebagai contoh, St. Ireneus (wafat 203) menulis kepada Paus St. Victor I, perihal perayaan Paskah dan perbedaan-perbedaan dalam perayaannya antara Timur dan Barat, "Perbedaan tidak hanya sebatas hari, tetapi juga ciri puasa yang sesungguhnya. Sebagian berpendapat bahwa mereka wajib berpuasa selama satu hari, sebagian berpuasa selama dua hari, lainnya lebih lama lagi; sebagian menetapkan ‘masa’ mereka selama 40 jam. Berbagai perbedaan dalam perayaan tersebut bukan berasal dari masa kita, melainkan jauh sebelumnya, yaitu sejak masa para leluhur kita." (Eusebius, Sejarah Gereja, V, 24). Ketika Rufinus menerjemahkan bagian berikut ini dari bahasa Yunani ke bahasa Latin, tanda baca yang dibubuhkan antara "40" dan "jam" menjadikan maknanya tampak seperti "40 hari, dua puluh empat jam sehari." Namun demikian, maksud pernyataan di atas adalah bahwa sejak masa"para leluhur kita" - sebutan bagi para rasul - suatu masa persiapan selama 40 hari telah ada. Tetapi, praktek nyata dan lamanya Masa Prapaskah masih belum seragam di seluruh Gereja. Masa Prapaskah diatur secara lebih mantap setelah legalisasi agama Kristen pada tahun 313. Konsili Nisea (tahun 325), dalam hukum kanonnya, mencatat bahwa dua sinode provincial haruslah diselenggarakan setiap tahun, "satu sebelum Masa Prapaskah selama 40 hari." St. Atanasius (wafat 373) dalam "Surat- khusuk selama Pekan Suci. St. Sirilus dari Yerusalem (wafat 386) dalam Pelajaran Katekese, mengajukan 18 instruksi sebelum pembaptisan yang diberikan kepada para katekumen selama Masa Prapaskah. St. Sirilus dari Alexandria (wafat 444) dalam serial "Surat-surat Festal" juga mencatat praktek dan lamanya Masa Prapaskah dengan menekankan masa puasa selama 40 hari. Dan akhirnya, Paus St. Leo (wafat 461) menyampaikan khotbahnya bahwa umat beriman wajib "melaksanakan puasa mereka sesuai tradisi Apostolik selama 40 hari". Orang dapat menyimpulkan bahwa pada akhir abad keempat, masa persiapan selama 40 hari menyambut Paskah yang disebut sebagai Masa Prapaskah telah ada, dan bahwa doa dan puasa merupakan latihan-latihan rohaninya yang utama. surat Festal" meminta umatnya melakukan puasa selama 40 hari sebelum puasa yang lebih Tentu saja, angka "40" selalu mempunyai makna spiritual khusus sehubungan dengan persiapan. Di gunung Sinai, sebagai persiapan untuk menerima Sepuluh Perintah Allah, "Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air" (Kel 34:28). Elia berjalan selama "40 hari dan 40 malam" ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (nama lain Sinai) (1 Raj 19:8). Dan yang terutama, Yesus berpuasa dan berdoa selama "40 hari dan 40 malam" di padang gurun sebelum Ia memulai pewartaan-Nya di hadapan orang banyak (Mat 4:2). Begitu Masa Prapaskah selama 40 hari ditetapkan, perkembangan berikutnya adalah menyangkut berapa banyak puasa yang harus dilakukan. Di Yerusalem, misalnya, orang berpuasa selama 40 hari, mulai hari Senin hingga hari Jumat, tetapi tidak pada hari Sabtu dan hari Minggu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama delapan minggu. Di Roma dan di Barat, orang berpuasa selama enam minggu, mulai hari Senin hingga hari Sabtu, dengan demikian Masa Prapaskah berlangsung selama enam minggu. Akhirnya, diberlakukan praktek puasa selama enam hari dalam satu minggu, selama masa enam minggu, dan Rabu Abu ditetapkan untuk menggenapkan hari-hari puasa sebelum Paskah menjadi 40 hari. Peraturan-peraturan puasa bervariasi pula. Pertama, sebagian wilayah Gereja berpantang dari segala bentuk daging dan produk hewani, sementara yang lain berpantang makanan tertentu seperti ikan. Sebagai contoh, Paus St. Gregorius (wafat 604), menulis kepada St. Agustinus dari Canterbury, perihal peraturan berikut: "Kami berpantang lemak, daging, dan segala makanan yang berasal dari hewan seperti susu, keju dan telur." Kedua, peraturan umum adalah orang makan satu kali dalam satu hari, yaitu pada sore hari atau pada pukul 3 petang. Peraturan-peraturan puasa Masa Prapaskah juga mengalami perkembangan. Pada akhirnya, makan sedikit pada waktu siang diperbolehkan guna menjaga daya tahan tubuh selama melakukan pekerjaan sehari-hari. Makan ikan diperbolehkan, dan akhirnya makan daging juga diperbolehkan sepanjang minggu kecuali pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat. Dispensasi diberikan untuk mengkonsumsi produk-produk hewani jika orang melakukan kerja berat, dan akhirnya peraturan ini pun sepenuhnya dihapuskan. Selama bertahun-tahun perubahan-perubahan terus dilakukan dalam merayakan Masa Prapaskah, menjadikan praktek kita sekarang tidak saja sederhana, tetapi juga ringan. Rabu Abu masih menandai dimulainya Masa Papaskah, yang berlangsung selama 40 hari, tidak termasuk hari Minggu. Peraturan-peraturan pantang dan puasa yang berlaku sekarang amatlah sederhana: Pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung, umat beriman berpuasa (makan kenyang hanya satu kali dalam sehari, ditambah makan sedikit untuk menjaga daya tahan tubuh) dan berpantang setiap hari Jumat selama Masa Prapaskah. Umat masih dianjurkan untuk "merelakan sesuatu" sesuatu selama Masa Prapaskah sebagai mati raga. (Catatan menarik adalah bahwa pada hari Minggu dan hari-hari raya, seperti Hari Raya St. Yusuf (19 Maret) dan Hari Raya Kabar Sukacita (25 Maret), orang bebas dan diperbolehkan makan / melakukan apa yang telah dikorbankan sebagai mati raga selama Masa Prapaskah). Namun demikian, senantiasa diajarkan kepada saya, "Jika kamu berpantang sesuatu demi Tuhan, teguhkan hatimu. Janganlah berlaku seperti orang Farisi yang suka mencari-cari kesempatan." Lagipula, penekanan haruslah dititikberatkan pada melakukan kegiatan-kegiatan rohani, seperti ikut serta dalam Jalan Salib, ambil bagian dalam Misa, adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus, meluangkan waktu untuk berdoa secara prbadi, membaca bacaan-bacaan rohani, dan yang terutama menerima Sakramen Tobat dengan baik dan memperoleh absolusi. Meskipun praktek perayaan dapat berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, namun fokus Masa Prapaskah tetap sama: yaitu menyesali dosa, memperbaharui iman, serta mempersiapkan diri menyambut perayaan sukacita misteri keselamatan kita.

Salah Sambung

Orang tua Mumut heran ngeliat anak gadisnya yang betah banget ngobrol di telfon. Kadang-kadang sampe lupa mandi tuh si Mumut gara-gara ngebelain untuk ngobrol di telfon …

Pada suatu hari dimeja makan tiba-tiba telfon berdering dan tanpa basa-basi Mumut langsung melompat lari mo ngangkat tuh telfon…

Mamanya kaget bukan main sampe-sampe tuh nasi yang rencananya mo dimasukin kemulut jadi berbelok ke hidung…

Setelah 2 jam, Mumut kembali kemeja makan…

Orang tua Mumut jadi heran dan saling pandang karena biasanya tuh anak paling sebentar 4 jam baru selesai ngobrolnya….

" Kok tumben Mut , cuma dua jam… siapa tadi yang telfon ?" tanya mamanya

" Tau’ tuh salah sambung….." jawab mumut polos


 

 

Pengemis

Di Lorong sempit di tengah kota nampak 2 pengemis yg sedang mengemis tentunya.

Pengemis 1: “Tuan, Nyonya…berilah kami uang….. 500 boleh 100 juga boleh 100 ribu juga nggak nolak”.

Pengemis 2: “Berilah kami uang tuan, tuan akan kami do’akan semoga cepat kaya !”.

Pengemis 1: “seharian kita mengemis, kok ya ga bisa buat beli mobil ya ? eh…ngomongin soal orang kaya, gue ini sebenarnya keturunan orang kaya Lho-harta peninggalan keluarga kami nggak akan habis dimakan tujuh keturunan !”.

Pengemis 2: “Lha trus kenapa elo jadi kere dan ngemis kaya gini ?”.

Pengemis 1: “Gue keturunan kedelapan !”

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here