Turun dari gunung

February 28, 2007

Pernah ada seorang calon biarawati yang dianjurkan oleh pemimpinya, supaya keluar dari biara. Ia sangat kecewa. Ia telah masuk biara dengan semangat besar, sebab ia ingin menemukan dan merasakan kedamaian dekat Tuhan bersama dengan suster-suster yang baik hati. Ia merasa bahwa hidupnya dirumah dan tempat kerja tidak enak dan tidak tenteram. Di rumah ibu bapaknya sering cecok dan hubungannye dengan kakak-adik tidak tanpa persoalan. Ia telah bekerja di salah satu kantor dan merasa kurang enak melihat praktek-praktek di situ, korupsi dan manipulasi dan rupa-rupa permainan. Ia tertekan, dan berharap dalam biara ia bisa menemui ketenteraman dan kedamaian. Tetapi aduh, di biara juga menemui percecokan, ketegangan dan rupa-rupa permainan, suster-suster tidak sesuci ia harapkan dan dalam doa juga ia mengalami kesulitan. Ia menjadi kecewa dan tidak menemui ketenteraman. Pemimpinnya menasehati, biara bukan tempat yang cocok untuknya; biara itu bukan tempat untuk melarikan diri dari tantangan dan hambatan.
Ada sesuatu yang aneh juga. Pada waktu mengalami kesulitan orang yang berumahtangga sering berpikir: enaklah hidup seorang dalam biara, tidak usah hidup bersama dengan isteri yang cerewet atau suami yang lekas marah, dengan anak-anak yang merepotkan; lagi dalam keadaan krisis seperti sekarang mereka itu tidak usah takut tidak ada makanan. Sebaliknya seorang biarawan lain kali berpikir, lebih-lebih pada waktu mengalami kesulitan: enaklah hidup berkeluarga, dicintai seorang suami atau isteri yang penuh kesayangan, senang-senang dengan anak-anak, tidak ditekan dengan rupa-rupa aturan dan tuntutan. Rumput diseberang jalan selalu kelihatan lebih hijau dan lebih enak; sapi yang diikat pada sebelah kanan dari jalan, pasti rindu menyeberang.
Tetapi tidak ada surga di bumi; dimanapun kita hidup kita akan menemui kegembiraan dan kesusahan, suka dan duka selalu tercampur; tak ada kebahagiaan tanpa ada perjuangan. Begitu gampang kita terpukul dan membiarkan diri terbanting karena kesusahan. Alangkah bagus kalau dalam segala kesulitan kita dapat melihat juga segala keberuntungan kita dan berkat yang dinikmati: biar suamiku lain kali marah, namun ia rajin dan keluarga kita tidak kekurangan; biar isteriku cerewet, namun masakannya enak-enak dan ia mengurus rumah tangga dengan baik; anak-anak merepotkan, namun memberikan kegembiraan juga; dan biar dalam biara saya merasa tertekan karena peraturan-peraturan dan karena pengawasan dan kritik teman-teman, tetapi hidup ini tenang, ada banyak yang berhati baik juga dan masa depanku terjamin. Hidup akan menjadi jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan, kalau kita lebih menghargai sekian banyak hal yang menghibur dan memgembirakan. Beruntunglah kita, biar ada kesusahan.
Kesulitan yang kita alami tidak boleh menutup mata kita untuk segalanya, tetapi juga tidak boleh membuat kita lari dari kenyataan dan mencari kedamaian dan ketenangan yang palsu. Itu dinyatakan dalam Injil. Yesus dan para rasul harus turun dari gunung dan Petrus tidak diizinkan mendirikan kemah dan bertinggal di gunung Tabor. Yesus harus pergi ke Yerusalem, di Yerusalem musuh-musuhnya sudah bersiap untuk menangkapnya; pergi ke Yerusalem berarti pergi menghadap sengsara dan kematian. Hati Yesus penuh kekecewaan dan ketakutan. Untuk sementara Yesus dan para rasul dapat melihat bahwa sengsara dan kematian bukan akhir semuanya: melalui sengsara dan kematian Ia akan masuk dalam kehidupan dan penghinaan akan menghantar kepada kemuliaan. Tetapi sesudah itu mereka harus menghadap kenyataan hidup yang payah dan pedih. Bagus juga, kalau dalam kesulitan kita juga dapat melihat bahwa itu bukan akhir semuanya, dan kita dapat percaya bahwa Allah beserta kita dan akan menghantar kita melalui kegelapan masuk terang. Apa juga yang menimpa kita, selalu ada masa depan bagi seorang yang percaya kepada Tuhan.
Saudara-saudara, tidak ada surga di dunia; suka dan duka tercampur dan silih berganti; tetapi surga itu bisa dibangun, itulah kabar gembira Yesus: itu mungkin. Tuhan menjamin, tetapi itu tidak mungkin tanpa pengorbanan dari pihak kita. Kita orang kristen seharusnya orang yang paling bahagia, sebab kita tahu, betapa susahpun masih ada pengharapan, sebab Tuhan menjadi pengharapan kita. Tetapi iman yang sama mengajak kita bekerja keras menghadapi segala tantangan, sebagaimana yang telah Yesus perbuat.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://beritasepekan.blogsome.com/2007/02/28/turun-dari-gunung/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here