Hidup Baru

April 22, 2007

Di Masa Paska lilin Paska, lambang Kristus yang telah bangkit, diberi tempat terhormat di bagian altar, supaya dilihat semua orang. Di kaki lilin kita melihat salib, salib kemenangan Kristus. Di atasnya dan dibawah Alpha dan Omega, permulaan dan akhir abjad Yunani dan di kelilingnya angka tahun. Yang terakhir sebagai tanda bahwa kebangkitan Kristus bukan saja satu peristiwa di masa yang lampau tetapi berarti untuk hidup kita di tahun 2007 juga. “Kristus dahulu dan sekarang, awal dan akhir, milikNyalah segala masa”, kata imam waktu memberkati lilin. Waktu itulah sesuatu yang cepat berlalu. Kata sekarang belum diucap, masa sekarang sudah, menjadi masa lampau dan tidak ada lagi. Sejarah manusia ialah ceritera tentang segala sesuatu yang pernah terjadi dan tidak ada lagi. Tetang sejarah itu dapat ditulis buku2 yang tebal, tetapi sebenarnya dapat diringkas dalam tiga kata saja: “Mereka lahir, mereka berjuang (susah) dan mereka mati”. Itulah riwayat hidup manusia: lahir, susah dan mati. Sungguh menyedihkan nasib manusia, kalau demikian: Ia lahir untuk bersusah dan tidak ada masa depan. Syukur, kita umat Allah punya keyakinan lain, lebih dari itu: ada masa depan dan masa depan itu cerah dan penuh kegembiraan. Paska membuktikannya. Yesus tidak hanya lahir, menderita dan mati; lalu habislah riwayatnya. Yesus bangkit, Ia hidup. Sengsara dan kematianNya bukan akhir riwayatnya, tetapi permulaan hidup yang baru. Allah tidak membiarkan Yesus dalam kekuasaan maut. Allah tidak menciptakan manusia untuk lahir, menderita, lalu mati; manusia diciptakan, supaya hidup dan setiap orang yang percaya kepadaNya akan hidup, biar Ia sudah mati. Kemenangan Yesus atas dosa dan maut membuka pintu menuju kehidupan, kehidupan abadi jauh dari dosa dan penderitaan, penuh kebahagiaan. Kita tidak usah mereasa putus asa pada masa yang sulit, kalau sakit dan menderita, dalam masa krisis ekonomi seperti sekarang, malahan maut tidak menakutkan lagi. Bagi seorang yang beriman selalu ada masa depan: Kebangkitan Kristus membuka masa depan yang cerah. Toh kita harus berhati-hati dan jangan menipu diri. Kita minipu diri, kalau mengira bahwa di tengah segala kesulitan hidup dan segala masalah dunia dan zaman, kita dapat duduk saja, menunggu sampai hidup yang lebih bahagia diberikan kepada kita. Ingat, kebangkitan Yesus tidak datang begitu saja; kebangkitanNya ialah hasil dari sengsara dan kematianNya. Dan sengsara dan kematianNya bukan satu nasib payah yang tidak dapat dihindari, tetapi puncak dari suatu perjuangan untuk membangun kerajaan surga di dunia ini. Suatu dunia tanpa kekerasan, tanpa kerakusan dan tanpa kejahatan diperjuangkan, satu dunia yang berdasar pada cinta yang tahu kasih, dimana setiap orang dapat hidup bahagia tanpa kurang apa2. Ia konsekwen sampai akhir. Ia tidak takut menegur yang bersalah, ia membuka kemunifikan hati orang yang tak jujur, ia melawan segala yang tidak adil. Dalam perkataan dan perbuatan Ia mengutamakan orang yang kecil, yang sederhana, malahan orang yang berdosa. Ia tidak mundur, ketika itu tidak diterima dengan baik oleh orang yang tertentu. Ia mati untuk umat manusia. Percaya akan Yesus yang bangkit tidak berarti menunggu sampai kita dibebaskan dari dunia ini. Tetapi berarti menghadap dunia, berjuang untuk mengubahnya, menghantam segala yang tidak baik dan tidak adil, baik dalam diri sendiri, maupun dalam dunia luas, menanamkan damai dan membagi kebahagiaan. Dan itu importune - opportune, orang senang atau tidak dengan apa yang kita buat. Tidak gampang, itu menuntut keberanian dan pengorbanan banyak; lain kali kita mungkin putus asa dan bertanya mengapa berpusing, toh tidak ada gunanya. Lalu kita melihat pada Yesus: rupanya percuma segala sesuatu yang diwartakan dan dibuatnya; gagal semuanya, ketika Ia bergantung di salib. Tetapi lihatlah: Ia bangkit dengan mulia: kebaikan tidak dapat dikalahkan; yang berbuat baik akan menang. Kepercayaan akan kebangkitan Yesus harus memenuhi kita dengan semangat baru untuk mengikuti Kristus dalam hidup sehari-hari. Kerajaan surga yang diwartakaNya bukan satu illusi, dunia ini dapat diubah, asal ada orang yang mau mengubahnya.

TUHAN TELAH BANGKIT!

April 6, 2007

Rekan-rekan yang budiman!
Tidak ada laporan bagaimana persisnya kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan saatnya dan siapa-siapa yang pertama melihat peristiwa itu. Jalannya peristiwa akan tetap tersembunyi, hanya jejak-jejak peristiwa itu sajalah yang dapat dikenali. Namun demikian, ada pokok yang mendasari kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit. Yang pertama ialah makam yang kosong dan yang kedua ialah keyakinan orang-orang yang terdekat bahwa ia tidak lagi berada di antara orang mati. Amat besar peran kesaksian orang-orang yang datang mencari dia yang tadinya wafat dan dimakamkan seperti disampaikan dalam Luk 24:1-12 (Malam Paskah); Yoh 20:1-9 (Minggu Paskah pagi ); dan Luk 24:13-35 (Minggu Paskah sore).

INJIL MALAM PASKAH: Luk 24:1-12

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu beberapa wanita datang ke makam membawa wewangian. Mereka menemukan batu penutup makam sudah tergolek. Tidak juga mereka mendapati jenazah Yesus (Luk 24:1-3). Mereka hanya menjumpai dua orang yang pakaiannya berkilau-kilauan yang menyapa, “Mengapa mereka mencari dia yang hidup di tempat orang mati. Ia tidak ada di sini, ia telah bangkit!… Itulah penjelasan mengenai makam yang kosong tadi.

Lukas menyebut “dua sosok”, Mrk 16:5 dan Mat 28:2 berbicara mengenai “seorang malaikat”, Yohanes bahkan tidak menyebutnya samasekali. Juga ada perbedaan mengenai siapa yang datang ke kubur. Lukas mencatat, wanita-wanita itu ialah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Luk 24:10); Mrk 16:1 menyebut tiga orang wanita, tetapi yang bernama Yohana menurut Lukas ialah Salome dalam Markus, Matius hanya menyebutkan dua wanita, yaitu Maria Magdalena dan Maria “yang lain”. Yoh 20:1 hanya menyebutkan Maria Magdalena.

Pembaca atau pendengar Injil tidak diharapkan menjadi detektif yang bertugas melacak jalannya peristiwa yang satu kepada yang lain. Injil mengajak orang mendengarkan kesaksian orang-orang yang sudah percaya akan kebangkitan dan ikut menikmati bagaimana mereka memandangi diri mereka sendiri selama mengalami peristiwa-peristiwa itu. Pengalaman tak selalu jelas (menyangkut berapa orang melihat makam kosong, siapa, dst.), tetapi menentu (bahwa makam memang kosong).

Kembali ke kisah Lukas mengenai wanita-wanita yang menemukan makam yang kosong dan menjumpai dua sosok yang pakaiannya berkilauan (Luk 24:4). Pembaca tulisan Lukas segera akan teringat ungkapan “dan tiba-tiba ada dua sosok”, Yunaninya “kai idou andres duo”, yang muncul dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:30) dan nanti peristiwa kenaikan Yesus ke surga (Kis 1:10). Pembaca dibawa serta memandangi dua sosok yang muncul di dalam tiap peristiwa itu. Dua sosok Perjanjian Lama, Musa dan Elia, tampil dalam kemuliaan berbicara dengan Yesus mengenai tujuan perjalanannya. Kemudian di makam, ada dua sosok yang berpakaian kemilau itu berkata kepada para wanita yang datang ke makam tadi bahwa Yesus telah bangkit - ia hidup dan tidak lagi berada di antara orang mati. Dan dalam peristiwa kenaikan Yesus ke surga, ketika para murid masih memandangi langit, ada dua sosok yang berpakaian putih muncul dan mengatakan bahwa Yesus akan kembali lagi dengan cara yang sama. Jelas Lukas bermaksud membuat pendengarnya ikut mengalami betapa mengesannya peristiwa-peristiwa itu. Seperti halnya mereka yang mengalami peristiwa tadi, entah itu ketiga murid Yesus entah itu para wanita yang mengunjungi makam atau orang-orang Galilea yang memandangi langit, pembaca tentu membutuhkan waktu untuk menggarap pengalaman ini. Orang akan memikirkan kembali, mengingat-ingat, mencari maknanya, dan mengheraninya, menyukainya. Itulah jalan tumbuhnya iman kepercayaan akan Dia yang telah bangkit pada diri wanita-wanita tadi.

Menurut Luk 24:6-7 kedua sosok itu mengingatkan para wanita tadi akan pemberitaan sengsara kematian dan kebangkitan oleh Yesus sendiri ketika masih di Galilea. Dan dikatakan dalam ayat 8 bahwa mereka teringat akan perkataan Yesus tadi. Sekarang mereka menemukan bahwa dia yang dulu mereka ikuti sehari-hari dan memberitakan tentang dirinya itu sama dengan yang kini telah bangkit. Pemberitahuan yang dulu sukar diterima dan sulit dimengerti itu kini jelas maknanya. Tidak dikatakan mereka itu memperoleh penampakan Yesus yang telah bangkit. Namun mereka sampai pada pengertian itu juga ketika diingatkan oleh kedua sosok tadi.

APA YANG DIALAMI PETRUS?

Maka wanita-wanita itu pergi mendapatkan kesebelas murid Yesus dan semua saudara yang lain dan menceritakan semua itu. Tentunya yang mereka sampaikan ialah pengalaman akan Yesus yang sudah bangkit seperti dikatakan olehnya sendiri dulu. Bagi para murid, kisah para wanita itu terdengar sebagai omong kosong belaka (ayat 11). Namun Petrus mau memeriksa benar tidaknya dan segera pergi ke makam. Di situ ia hanya mendapati kain kafan saja. Ia kemudian pulang heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi (ayat 12). Apakah ia melihat Yesus yang bangkit?

Ayat 12 ini tidak didapati di dalam naskah-naskah tua yang penting. Namun bacaan liturgi sudah lama menerima ayat ini sebagai bagian Injil Lukas dan oleh karenanya dapat diandaikan memang berasal dari tradisi yang dikenal Lukas sendiri. Memang terasa sebagai tambahan atas dasar kisah kebangkitan Yoh 20:3-10, khususnya bagian yang menceritakan “murid yang lain” yang dialihkan kepada Petrus dalam Luk 24:12 ini. Di lain pihak ungkapan “(Petrus) bangun” dan “yang telah terjadi” memang kerap muncul dalam Lukas.

Nanti dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon.” Tapi Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1 Kor 15:5 Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rasa-rasanya memang dengan sengaja Lukas hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi.” (Yunaninya, “thaumazoon to gegonos”). Pendengar Injil diajak ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya saja yang ada di situ. Petrus akan sampai kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.

INJIL MINGGU PASKAH (PAGI): Yoh 20:1-9

Menurut Injil Yohanes, pada hari perama minggu itu, pagi-pagi benar, Maria Magdalena datang ke makam Yesus. Ia melihat batu penutup telah diambil dari kubur. Segera ia berlari mendapatkan Petrus dan murid lain yakni “murid yang dikasihi” Yesus dan menyampaikan berita bahwa Yesus diambil orang dan tak diketahui di mana sekarang. Maka Petrus dan murid yang lain itu berlari ke makam. Murid yang lain tadi sampai terlebih dahulu, menjenguk ke dalam kubur dan melihat kain kafan terletak di tanah. Petrus juga datang, lalu masuk dan mendapati juga kafan terletak di tanah, tapi kain peluh terlihat di tempat lain. Kedua murid ini mendapati makam kosong. Kesimpulan pembaca Injil: dia sudah bangkit. Seandainya jenazahnya cuma dipindahkan atau disembunyikan, mestinya kafan dan kain peluh tidak dilepas dan ditinggalkan di makam.

Murid yang lain, yang tadi ada di luar itu, menyusul masuk ke makam, dan disebutkan, “ia melihatnya”, maksudnya, ia melihat bekas-bekas Yesus di situ, tapi kini sudah bangkit. Ditambahkan dalam ay. 8, “Dan ia percaya.” Pengalaman pembaca Injil Yohanes dulu masih bisa kita ikuti pula. Ia akan pertama-tama menyimpulkan bahwa Yesus sudah bangkit dan baru sejenak kemudian percaya, seperti murid yang lain tadi. Ini cara berkisah Yohanes yang melibatkan pembaca. Ia membuat siapa saja yang mengikuti kisahnya merasa seolah-olah ikut berlari ke makam, dan boleh jadi datang mendahului Petrus dan bahkan murid yang dikasihi itu sendiri. Dan mendahului percaya Yesus sudah bangkit!

Mari kita bandingkan dengan Injil Lukas. Dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon”. Akan tetapi, Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1Kor 15:5, Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun demikian, apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rupa-rupanya Lukas sengaja hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi”. Lukas mengajak pembaca ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya masih di situ. Begitulah Petrus nanti juga sampai pada kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.

INJIL MINGGU PASKAH (SORE): Luk 24:13-35

Dalam konteks kisah kebangkitan Lukas (Luk 24:1-12), ditekankan pengalaman para perempuan di makam yang kosong yang teringat akan perkataan Yesus dahulu. Juga digambarkan pengalaman Petrus menemukan makna peristiwa ini seperti disinggung di atas. Dua jalan itu membawa mereka sampai pada keyakinan bahwa Yesus telah bangkit.

Ada jalan lain, yakni penampakan, seperti yang dialami kedua murid yang menuju Emaus yang diceritakan di dalam Luk 24:13-35. Kedua murid itu tidak segera menyadari bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Bagi mereka, Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Jadi, sepanjang perjalanan itu kedua murid tadi “membaca kembali” warta Kitab Suci mengenai Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Akan tetapi, saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup. Kesadaran inilah yang membuat mereka bergegas mengabarkan kepada kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.

Satu hal lagi. Kedua murid yang berjalan ke Emaus itu disertai oleh dia yang telah bangkit dalam ujud yang tidak segera mereka kenali. Perjumpaan dengan orang yang tak dikenal, tapi dalam suasana dialog tadi menjadi jalan yang setapak demi setapak membuat mereka siap mengenali siapa dia itu sesungguhnya. Banyak perjumpaan yang memperkaya batin yang tak segera disadari. Biarkan dia sendiri yang ada dalam pengalaman itu menunjukkan diri. Dan saat itu juga mereka - kita juga - akan menyadari kenapa tadi “hati kita berkobar-kobar…!” (ay. 32).

Sumber : http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=3910

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here