Sesuatu yang putih akan lebih putih kelihatannya kalau dikontraskan dengan yang hitam. Sesuatu yang baik akan lebih nyata kebaikannya jika diperbandingkan dengan sesuatu yang buruk. Demikian pula: cinta akan akan lebih kuat rasanya bila dipertentangkan dengan pengkhianatan.
Rasanya di mana ada cinta selalu ada pula pengkhianatan. Juga sebaliknya: di mana ada pengkhianatan, di sana bisa tumbuh cinta yang cemerlang. Itu dapat kita dengar pula dalam Injil hari ini. Bukan kebetulan Yohanes menulis pengkhianatan Yudas Iskariot pada awal Injil hari ini, dimana diwartakan tentang pemuliaan Putera Manusia dan tentang perintah baru, “Saling mencintai”. Pengkhianatan Yudas menurut Injil ini merupakan alasan bagi penderitaan dan kematian Yesus. Kegagalan Yudas lebih mempertegas keagungan rencana Allah yang tidak gagal karena kegagalan manusia. Tanpa pengkhianatan Yudas maka tidak ada salib, tetapi juga tidak ada kebangkitan dan kemuliaan. Ini yang mau disampaikan oleh Yohanes walau tidak riil. Dengan Yesus Kristus yang mau memulai hidup baru dengan kesengsaraan ternyata mulai dibuka masa baru yaitu kebangkitan dan kemuliaan.
Pengalaman ini akan tetap dialami pula oleh Gereja-Nya. Dalam Gereja akan tetap ada pengkhianatan, tetapi juga cinta. Cinta ini harus menandai hidup para murid-Nya, walaupun akan selalu “ditantang” oleh pelbagai pengkhianatan.
Dalam perang kemerdekaan Irlandia Utara seorang pejuang Irlandia berhasil membunuh seorang tokoh berpengaruh di Inggris. Tetapi kemudia ia dikhianati oleh kawan seperjuangannya, sehingga ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman mati digantung. Menjelang hari hukuman matinya, berulang kali ia menolak bapa pengakuan penjara itu, karena ia tidak bisa mengaku, ia tidak bisa mengampuni pengkhianatnya.
Pada suatu hari seorang biarawati datang kepadanya dan biarawati itu meminta pendapatnya karena ia mau keluar dari biara sebab ia sangat mengalami kesulitan untuk memaafkan seseorang yang telah membunuh saudaranya. Siapa saudara biarawati itu? Ia adalah tokoh berpengaruh di Inggris yang telah dibunuh oleh pejuang Irlandia yang sekarang berada di hadapannya.
Pejuang itu diam lalu berkata: “Saya mohon Suster jangan meninggalkan biara, panggilkan bapa pengakuan, karena sekarang saya mau memaafkan kawan yang mengkhianatiku dan saya mau mengaku dosa. Sebagai seorang kristiani saya harus mencintainya!
Pejuang itu akhirnya mengerti. Ia berlapang hati untuk memaafkan dan mencintai saudara seperjuangannya seperti seperti suster itu yang mau bersusah-susah berusaha supaya ia dapat menjalani hukuman matinya tanpa dendam di hati dan dengan demikian mungkin di selamatkan. Suster itu telah menunjukkan perhatian dan kasihnya yang tulus, walaupun orang yang di depannya itu telah membunuh saudaranya.