Cinta & Pengkhianatan

May 5, 2007

Sesuatu yang putih akan lebih putih kelihatannya kalau dikontraskan dengan yang hitam. Sesuatu yang baik akan lebih nyata kebaikannya jika diperbandingkan dengan sesuatu yang buruk. Demikian pula: cinta akan akan lebih kuat rasanya bila dipertentangkan dengan pengkhianatan.
Rasanya di mana ada cinta selalu ada pula pengkhianatan. Juga sebaliknya: di mana ada pengkhianatan, di sana bisa tumbuh cinta yang cemerlang. Itu dapat kita dengar pula dalam Injil hari ini. Bukan kebetulan Yohanes menulis pengkhianatan Yudas Iskariot pada awal Injil hari ini, dimana diwartakan tentang pemuliaan Putera Manusia dan tentang perintah baru, “Saling mencintai”. Pengkhianatan Yudas menurut Injil ini merupakan alasan bagi penderitaan dan kematian Yesus. Kegagalan Yudas lebih mempertegas keagungan rencana Allah yang tidak gagal karena kegagalan manusia. Tanpa pengkhianatan Yudas maka tidak ada salib, tetapi juga tidak ada kebangkitan dan kemuliaan. Ini yang mau disampaikan oleh Yohanes walau tidak riil. Dengan Yesus Kristus yang mau memulai hidup baru dengan kesengsaraan ternyata mulai dibuka masa baru yaitu kebangkitan dan kemuliaan.
Pengalaman ini akan tetap dialami pula oleh Gereja-Nya. Dalam Gereja akan tetap ada pengkhianatan, tetapi juga cinta. Cinta ini harus menandai hidup para murid-Nya, walaupun akan selalu “ditantang” oleh pelbagai pengkhianatan.
Dalam perang kemerdekaan Irlandia Utara seorang pejuang Irlandia berhasil membunuh seorang tokoh berpengaruh di Inggris. Tetapi kemudia ia dikhianati oleh kawan seperjuangannya, sehingga ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman mati digantung. Menjelang hari hukuman matinya, berulang kali ia menolak bapa pengakuan penjara itu, karena ia tidak bisa mengaku, ia tidak bisa mengampuni pengkhianatnya.
Pada suatu hari seorang biarawati datang kepadanya dan biarawati itu meminta pendapatnya karena ia mau keluar dari biara sebab ia sangat mengalami kesulitan untuk memaafkan seseorang yang telah membunuh saudaranya. Siapa saudara biarawati itu? Ia adalah tokoh berpengaruh di Inggris yang telah dibunuh oleh pejuang Irlandia yang sekarang berada di hadapannya.
Pejuang itu diam lalu berkata: “Saya mohon Suster jangan meninggalkan biara, panggilkan bapa pengakuan, karena sekarang saya mau memaafkan kawan yang mengkhianatiku dan saya mau mengaku dosa. Sebagai seorang kristiani saya harus mencintainya!
Pejuang itu akhirnya mengerti. Ia berlapang hati untuk memaafkan dan mencintai saudara seperjuangannya seperti seperti suster itu yang mau bersusah-susah berusaha supaya ia dapat menjalani hukuman matinya tanpa dendam di hati dan dengan demikian mungkin di selamatkan. Suster itu telah menunjukkan perhatian dan kasihnya yang tulus, walaupun orang yang di depannya itu telah membunuh saudaranya.

Hidup Baru

April 22, 2007

Di Masa Paska lilin Paska, lambang Kristus yang telah bangkit, diberi tempat terhormat di bagian altar, supaya dilihat semua orang. Di kaki lilin kita melihat salib, salib kemenangan Kristus. Di atasnya dan dibawah Alpha dan Omega, permulaan dan akhir abjad Yunani dan di kelilingnya angka tahun. Yang terakhir sebagai tanda bahwa kebangkitan Kristus bukan saja satu peristiwa di masa yang lampau tetapi berarti untuk hidup kita di tahun 2007 juga. “Kristus dahulu dan sekarang, awal dan akhir, milikNyalah segala masa”, kata imam waktu memberkati lilin. Waktu itulah sesuatu yang cepat berlalu. Kata sekarang belum diucap, masa sekarang sudah, menjadi masa lampau dan tidak ada lagi. Sejarah manusia ialah ceritera tentang segala sesuatu yang pernah terjadi dan tidak ada lagi. Tetang sejarah itu dapat ditulis buku2 yang tebal, tetapi sebenarnya dapat diringkas dalam tiga kata saja: “Mereka lahir, mereka berjuang (susah) dan mereka mati”. Itulah riwayat hidup manusia: lahir, susah dan mati. Sungguh menyedihkan nasib manusia, kalau demikian: Ia lahir untuk bersusah dan tidak ada masa depan. Syukur, kita umat Allah punya keyakinan lain, lebih dari itu: ada masa depan dan masa depan itu cerah dan penuh kegembiraan. Paska membuktikannya. Yesus tidak hanya lahir, menderita dan mati; lalu habislah riwayatnya. Yesus bangkit, Ia hidup. Sengsara dan kematianNya bukan akhir riwayatnya, tetapi permulaan hidup yang baru. Allah tidak membiarkan Yesus dalam kekuasaan maut. Allah tidak menciptakan manusia untuk lahir, menderita, lalu mati; manusia diciptakan, supaya hidup dan setiap orang yang percaya kepadaNya akan hidup, biar Ia sudah mati. Kemenangan Yesus atas dosa dan maut membuka pintu menuju kehidupan, kehidupan abadi jauh dari dosa dan penderitaan, penuh kebahagiaan. Kita tidak usah mereasa putus asa pada masa yang sulit, kalau sakit dan menderita, dalam masa krisis ekonomi seperti sekarang, malahan maut tidak menakutkan lagi. Bagi seorang yang beriman selalu ada masa depan: Kebangkitan Kristus membuka masa depan yang cerah. Toh kita harus berhati-hati dan jangan menipu diri. Kita minipu diri, kalau mengira bahwa di tengah segala kesulitan hidup dan segala masalah dunia dan zaman, kita dapat duduk saja, menunggu sampai hidup yang lebih bahagia diberikan kepada kita. Ingat, kebangkitan Yesus tidak datang begitu saja; kebangkitanNya ialah hasil dari sengsara dan kematianNya. Dan sengsara dan kematianNya bukan satu nasib payah yang tidak dapat dihindari, tetapi puncak dari suatu perjuangan untuk membangun kerajaan surga di dunia ini. Suatu dunia tanpa kekerasan, tanpa kerakusan dan tanpa kejahatan diperjuangkan, satu dunia yang berdasar pada cinta yang tahu kasih, dimana setiap orang dapat hidup bahagia tanpa kurang apa2. Ia konsekwen sampai akhir. Ia tidak takut menegur yang bersalah, ia membuka kemunifikan hati orang yang tak jujur, ia melawan segala yang tidak adil. Dalam perkataan dan perbuatan Ia mengutamakan orang yang kecil, yang sederhana, malahan orang yang berdosa. Ia tidak mundur, ketika itu tidak diterima dengan baik oleh orang yang tertentu. Ia mati untuk umat manusia. Percaya akan Yesus yang bangkit tidak berarti menunggu sampai kita dibebaskan dari dunia ini. Tetapi berarti menghadap dunia, berjuang untuk mengubahnya, menghantam segala yang tidak baik dan tidak adil, baik dalam diri sendiri, maupun dalam dunia luas, menanamkan damai dan membagi kebahagiaan. Dan itu importune - opportune, orang senang atau tidak dengan apa yang kita buat. Tidak gampang, itu menuntut keberanian dan pengorbanan banyak; lain kali kita mungkin putus asa dan bertanya mengapa berpusing, toh tidak ada gunanya. Lalu kita melihat pada Yesus: rupanya percuma segala sesuatu yang diwartakan dan dibuatnya; gagal semuanya, ketika Ia bergantung di salib. Tetapi lihatlah: Ia bangkit dengan mulia: kebaikan tidak dapat dikalahkan; yang berbuat baik akan menang. Kepercayaan akan kebangkitan Yesus harus memenuhi kita dengan semangat baru untuk mengikuti Kristus dalam hidup sehari-hari. Kerajaan surga yang diwartakaNya bukan satu illusi, dunia ini dapat diubah, asal ada orang yang mau mengubahnya.

TUHAN TELAH BANGKIT!

April 6, 2007

Rekan-rekan yang budiman!
Tidak ada laporan bagaimana persisnya kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan saatnya dan siapa-siapa yang pertama melihat peristiwa itu. Jalannya peristiwa akan tetap tersembunyi, hanya jejak-jejak peristiwa itu sajalah yang dapat dikenali. Namun demikian, ada pokok yang mendasari kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit. Yang pertama ialah makam yang kosong dan yang kedua ialah keyakinan orang-orang yang terdekat bahwa ia tidak lagi berada di antara orang mati. Amat besar peran kesaksian orang-orang yang datang mencari dia yang tadinya wafat dan dimakamkan seperti disampaikan dalam Luk 24:1-12 (Malam Paskah); Yoh 20:1-9 (Minggu Paskah pagi ); dan Luk 24:13-35 (Minggu Paskah sore).

INJIL MALAM PASKAH: Luk 24:1-12

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu beberapa wanita datang ke makam membawa wewangian. Mereka menemukan batu penutup makam sudah tergolek. Tidak juga mereka mendapati jenazah Yesus (Luk 24:1-3). Mereka hanya menjumpai dua orang yang pakaiannya berkilau-kilauan yang menyapa, “Mengapa mereka mencari dia yang hidup di tempat orang mati. Ia tidak ada di sini, ia telah bangkit!… Itulah penjelasan mengenai makam yang kosong tadi.

Lukas menyebut “dua sosok”, Mrk 16:5 dan Mat 28:2 berbicara mengenai “seorang malaikat”, Yohanes bahkan tidak menyebutnya samasekali. Juga ada perbedaan mengenai siapa yang datang ke kubur. Lukas mencatat, wanita-wanita itu ialah Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Luk 24:10); Mrk 16:1 menyebut tiga orang wanita, tetapi yang bernama Yohana menurut Lukas ialah Salome dalam Markus, Matius hanya menyebutkan dua wanita, yaitu Maria Magdalena dan Maria “yang lain”. Yoh 20:1 hanya menyebutkan Maria Magdalena.

Pembaca atau pendengar Injil tidak diharapkan menjadi detektif yang bertugas melacak jalannya peristiwa yang satu kepada yang lain. Injil mengajak orang mendengarkan kesaksian orang-orang yang sudah percaya akan kebangkitan dan ikut menikmati bagaimana mereka memandangi diri mereka sendiri selama mengalami peristiwa-peristiwa itu. Pengalaman tak selalu jelas (menyangkut berapa orang melihat makam kosong, siapa, dst.), tetapi menentu (bahwa makam memang kosong).

Kembali ke kisah Lukas mengenai wanita-wanita yang menemukan makam yang kosong dan menjumpai dua sosok yang pakaiannya berkilauan (Luk 24:4). Pembaca tulisan Lukas segera akan teringat ungkapan “dan tiba-tiba ada dua sosok”, Yunaninya “kai idou andres duo”, yang muncul dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:30) dan nanti peristiwa kenaikan Yesus ke surga (Kis 1:10). Pembaca dibawa serta memandangi dua sosok yang muncul di dalam tiap peristiwa itu. Dua sosok Perjanjian Lama, Musa dan Elia, tampil dalam kemuliaan berbicara dengan Yesus mengenai tujuan perjalanannya. Kemudian di makam, ada dua sosok yang berpakaian kemilau itu berkata kepada para wanita yang datang ke makam tadi bahwa Yesus telah bangkit - ia hidup dan tidak lagi berada di antara orang mati. Dan dalam peristiwa kenaikan Yesus ke surga, ketika para murid masih memandangi langit, ada dua sosok yang berpakaian putih muncul dan mengatakan bahwa Yesus akan kembali lagi dengan cara yang sama. Jelas Lukas bermaksud membuat pendengarnya ikut mengalami betapa mengesannya peristiwa-peristiwa itu. Seperti halnya mereka yang mengalami peristiwa tadi, entah itu ketiga murid Yesus entah itu para wanita yang mengunjungi makam atau orang-orang Galilea yang memandangi langit, pembaca tentu membutuhkan waktu untuk menggarap pengalaman ini. Orang akan memikirkan kembali, mengingat-ingat, mencari maknanya, dan mengheraninya, menyukainya. Itulah jalan tumbuhnya iman kepercayaan akan Dia yang telah bangkit pada diri wanita-wanita tadi.

Menurut Luk 24:6-7 kedua sosok itu mengingatkan para wanita tadi akan pemberitaan sengsara kematian dan kebangkitan oleh Yesus sendiri ketika masih di Galilea. Dan dikatakan dalam ayat 8 bahwa mereka teringat akan perkataan Yesus tadi. Sekarang mereka menemukan bahwa dia yang dulu mereka ikuti sehari-hari dan memberitakan tentang dirinya itu sama dengan yang kini telah bangkit. Pemberitahuan yang dulu sukar diterima dan sulit dimengerti itu kini jelas maknanya. Tidak dikatakan mereka itu memperoleh penampakan Yesus yang telah bangkit. Namun mereka sampai pada pengertian itu juga ketika diingatkan oleh kedua sosok tadi.

APA YANG DIALAMI PETRUS?

Maka wanita-wanita itu pergi mendapatkan kesebelas murid Yesus dan semua saudara yang lain dan menceritakan semua itu. Tentunya yang mereka sampaikan ialah pengalaman akan Yesus yang sudah bangkit seperti dikatakan olehnya sendiri dulu. Bagi para murid, kisah para wanita itu terdengar sebagai omong kosong belaka (ayat 11). Namun Petrus mau memeriksa benar tidaknya dan segera pergi ke makam. Di situ ia hanya mendapati kain kafan saja. Ia kemudian pulang heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi (ayat 12). Apakah ia melihat Yesus yang bangkit?

Ayat 12 ini tidak didapati di dalam naskah-naskah tua yang penting. Namun bacaan liturgi sudah lama menerima ayat ini sebagai bagian Injil Lukas dan oleh karenanya dapat diandaikan memang berasal dari tradisi yang dikenal Lukas sendiri. Memang terasa sebagai tambahan atas dasar kisah kebangkitan Yoh 20:3-10, khususnya bagian yang menceritakan “murid yang lain” yang dialihkan kepada Petrus dalam Luk 24:12 ini. Di lain pihak ungkapan “(Petrus) bangun” dan “yang telah terjadi” memang kerap muncul dalam Lukas.

Nanti dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon.” Tapi Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1 Kor 15:5 Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rasa-rasanya memang dengan sengaja Lukas hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi.” (Yunaninya, “thaumazoon to gegonos”). Pendengar Injil diajak ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya saja yang ada di situ. Petrus akan sampai kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.

INJIL MINGGU PASKAH (PAGI): Yoh 20:1-9

Menurut Injil Yohanes, pada hari perama minggu itu, pagi-pagi benar, Maria Magdalena datang ke makam Yesus. Ia melihat batu penutup telah diambil dari kubur. Segera ia berlari mendapatkan Petrus dan murid lain yakni “murid yang dikasihi” Yesus dan menyampaikan berita bahwa Yesus diambil orang dan tak diketahui di mana sekarang. Maka Petrus dan murid yang lain itu berlari ke makam. Murid yang lain tadi sampai terlebih dahulu, menjenguk ke dalam kubur dan melihat kain kafan terletak di tanah. Petrus juga datang, lalu masuk dan mendapati juga kafan terletak di tanah, tapi kain peluh terlihat di tempat lain. Kedua murid ini mendapati makam kosong. Kesimpulan pembaca Injil: dia sudah bangkit. Seandainya jenazahnya cuma dipindahkan atau disembunyikan, mestinya kafan dan kain peluh tidak dilepas dan ditinggalkan di makam.

Murid yang lain, yang tadi ada di luar itu, menyusul masuk ke makam, dan disebutkan, “ia melihatnya”, maksudnya, ia melihat bekas-bekas Yesus di situ, tapi kini sudah bangkit. Ditambahkan dalam ay. 8, “Dan ia percaya.” Pengalaman pembaca Injil Yohanes dulu masih bisa kita ikuti pula. Ia akan pertama-tama menyimpulkan bahwa Yesus sudah bangkit dan baru sejenak kemudian percaya, seperti murid yang lain tadi. Ini cara berkisah Yohanes yang melibatkan pembaca. Ia membuat siapa saja yang mengikuti kisahnya merasa seolah-olah ikut berlari ke makam, dan boleh jadi datang mendahului Petrus dan bahkan murid yang dikasihi itu sendiri. Dan mendahului percaya Yesus sudah bangkit!

Mari kita bandingkan dengan Injil Lukas. Dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa “Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon”. Akan tetapi, Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1Kor 15:5, Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun demikian, apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rupa-rupanya Lukas sengaja hanya menyebut Petrus “heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi”. Lukas mengajak pembaca ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai “apa yang telah terjadi itu”, yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya masih di situ. Begitulah Petrus nanti juga sampai pada kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.

INJIL MINGGU PASKAH (SORE): Luk 24:13-35

Dalam konteks kisah kebangkitan Lukas (Luk 24:1-12), ditekankan pengalaman para perempuan di makam yang kosong yang teringat akan perkataan Yesus dahulu. Juga digambarkan pengalaman Petrus menemukan makna peristiwa ini seperti disinggung di atas. Dua jalan itu membawa mereka sampai pada keyakinan bahwa Yesus telah bangkit.

Ada jalan lain, yakni penampakan, seperti yang dialami kedua murid yang menuju Emaus yang diceritakan di dalam Luk 24:13-35. Kedua murid itu tidak segera menyadari bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Bagi mereka, Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Jadi, sepanjang perjalanan itu kedua murid tadi “membaca kembali” warta Kitab Suci mengenai Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Akan tetapi, saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup. Kesadaran inilah yang membuat mereka bergegas mengabarkan kepada kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.

Satu hal lagi. Kedua murid yang berjalan ke Emaus itu disertai oleh dia yang telah bangkit dalam ujud yang tidak segera mereka kenali. Perjumpaan dengan orang yang tak dikenal, tapi dalam suasana dialog tadi menjadi jalan yang setapak demi setapak membuat mereka siap mengenali siapa dia itu sesungguhnya. Banyak perjumpaan yang memperkaya batin yang tak segera disadari. Biarkan dia sendiri yang ada dalam pengalaman itu menunjukkan diri. Dan saat itu juga mereka - kita juga - akan menyadari kenapa tadi “hati kita berkobar-kobar…!” (ay. 32).

Sumber : http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=3910

Turun dari gunung

February 28, 2007

Pernah ada seorang calon biarawati yang dianjurkan oleh pemimpinya, supaya keluar dari biara. Ia sangat kecewa. Ia telah masuk biara dengan semangat besar, sebab ia ingin menemukan dan merasakan kedamaian dekat Tuhan bersama dengan suster-suster yang baik hati. Ia merasa bahwa hidupnya dirumah dan tempat kerja tidak enak dan tidak tenteram. Di rumah ibu bapaknya sering cecok dan hubungannye dengan kakak-adik tidak tanpa persoalan. Ia telah bekerja di salah satu kantor dan merasa kurang enak melihat praktek-praktek di situ, korupsi dan manipulasi dan rupa-rupa permainan. Ia tertekan, dan berharap dalam biara ia bisa menemui ketenteraman dan kedamaian. Tetapi aduh, di biara juga menemui percecokan, ketegangan dan rupa-rupa permainan, suster-suster tidak sesuci ia harapkan dan dalam doa juga ia mengalami kesulitan. Ia menjadi kecewa dan tidak menemui ketenteraman. Pemimpinnya menasehati, biara bukan tempat yang cocok untuknya; biara itu bukan tempat untuk melarikan diri dari tantangan dan hambatan.
Ada sesuatu yang aneh juga. Pada waktu mengalami kesulitan orang yang berumahtangga sering berpikir: enaklah hidup seorang dalam biara, tidak usah hidup bersama dengan isteri yang cerewet atau suami yang lekas marah, dengan anak-anak yang merepotkan; lagi dalam keadaan krisis seperti sekarang mereka itu tidak usah takut tidak ada makanan. Sebaliknya seorang biarawan lain kali berpikir, lebih-lebih pada waktu mengalami kesulitan: enaklah hidup berkeluarga, dicintai seorang suami atau isteri yang penuh kesayangan, senang-senang dengan anak-anak, tidak ditekan dengan rupa-rupa aturan dan tuntutan. Rumput diseberang jalan selalu kelihatan lebih hijau dan lebih enak; sapi yang diikat pada sebelah kanan dari jalan, pasti rindu menyeberang.
Tetapi tidak ada surga di bumi; dimanapun kita hidup kita akan menemui kegembiraan dan kesusahan, suka dan duka selalu tercampur; tak ada kebahagiaan tanpa ada perjuangan. Begitu gampang kita terpukul dan membiarkan diri terbanting karena kesusahan. Alangkah bagus kalau dalam segala kesulitan kita dapat melihat juga segala keberuntungan kita dan berkat yang dinikmati: biar suamiku lain kali marah, namun ia rajin dan keluarga kita tidak kekurangan; biar isteriku cerewet, namun masakannya enak-enak dan ia mengurus rumah tangga dengan baik; anak-anak merepotkan, namun memberikan kegembiraan juga; dan biar dalam biara saya merasa tertekan karena peraturan-peraturan dan karena pengawasan dan kritik teman-teman, tetapi hidup ini tenang, ada banyak yang berhati baik juga dan masa depanku terjamin. Hidup akan menjadi jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan, kalau kita lebih menghargai sekian banyak hal yang menghibur dan memgembirakan. Beruntunglah kita, biar ada kesusahan.
Kesulitan yang kita alami tidak boleh menutup mata kita untuk segalanya, tetapi juga tidak boleh membuat kita lari dari kenyataan dan mencari kedamaian dan ketenangan yang palsu. Itu dinyatakan dalam Injil. Yesus dan para rasul harus turun dari gunung dan Petrus tidak diizinkan mendirikan kemah dan bertinggal di gunung Tabor. Yesus harus pergi ke Yerusalem, di Yerusalem musuh-musuhnya sudah bersiap untuk menangkapnya; pergi ke Yerusalem berarti pergi menghadap sengsara dan kematian. Hati Yesus penuh kekecewaan dan ketakutan. Untuk sementara Yesus dan para rasul dapat melihat bahwa sengsara dan kematian bukan akhir semuanya: melalui sengsara dan kematian Ia akan masuk dalam kehidupan dan penghinaan akan menghantar kepada kemuliaan. Tetapi sesudah itu mereka harus menghadap kenyataan hidup yang payah dan pedih. Bagus juga, kalau dalam kesulitan kita juga dapat melihat bahwa itu bukan akhir semuanya, dan kita dapat percaya bahwa Allah beserta kita dan akan menghantar kita melalui kegelapan masuk terang. Apa juga yang menimpa kita, selalu ada masa depan bagi seorang yang percaya kepada Tuhan.
Saudara-saudara, tidak ada surga di dunia; suka dan duka tercampur dan silih berganti; tetapi surga itu bisa dibangun, itulah kabar gembira Yesus: itu mungkin. Tuhan menjamin, tetapi itu tidak mungkin tanpa pengorbanan dari pihak kita. Kita orang kristen seharusnya orang yang paling bahagia, sebab kita tahu, betapa susahpun masih ada pengharapan, sebab Tuhan menjadi pengharapan kita. Tetapi iman yang sama mengajak kita bekerja keras menghadapi segala tantangan, sebagaimana yang telah Yesus perbuat.

Godaan

February 24, 2007

Permintaan mendesak dari Keuskupan di Selatan sampai pada Keuskupan Agung di utara. Ia meminta seorang imam yang bijak dan suci dan siap dengan pelayanan dan bapa rohani bagi seminari tinggi. Setiap orang heran bahwa Uskup Agung di utara mengirim 5 frater diakon yang siap ditahbiskan menjadi imam. Uskup Agung Utara berkata: “ Imam di sini sangat terbatas, maka saya kirim 5 frater diakon yang siap ditahbiskan, nanti sesudah ditahbiskan silahkan Uskup memilih salah satu dari mereka itu”. Para frater itu sudah menempuh perjalanan selama beberapa hari, ketika seorang kurir menghampiri mereka. “Kami sudah 3 tahun lebih tidak punya pemimpin. Desa ini sering ada rampok dan huru hara. Masyarakat tidak tenang. Tidak ada yang bersedia memimpin desa ini lagi. Kami mendambakan seorang pemimpin yang mampu membuat hidup masyarakat ini tenang”. Salah seorang frater, yang hebat dalam ilmu bela diri dan punya kemampuan intelektual yang tinggi, merasa terdorong untuk tinggal dan memimpin desa itu. “Aku bukan murid Kristus yang sejati kalau aku tidak tinggal di sini dan melayani mereka”. Niat baik ini disambut warga. Ia tidak melanjutkan perjalanannya. Beberapa hari kemudian tibalah mereka di rumah seorang kepala suku, yang tertarik pada salah seorang frater. “Tinggalah di sini”, kata kepala suku dan aku akan memberikan putriku kepadamu. Dan jika aku mati nanti, engkaulah yang mengganti aku menduduki kepla suku ini”. Hati frater ini tertarik pada putrid yang cantik dan pada jabatan kepala suku. Ia berkata: “Apakah ada kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan peri kehidupan di sini daripada menerima kedudukan kepala suku? Aku bukan murid Kristus yang sejati jika aku tidak membagikan kehidupanku bagi suku ini dan memajukan kehidupan mereka”. Ia tidak melanjutkan perjalanan. Tiga frater masih melanjutkan perjalanan. Pada suatu malam, di sebuah pegunungan, mereka menginap di sebuah gubuk yang hanya didiami oleh seorang gadis manis. Ia menerima mereka dengan ramah. Ia bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah mempertemukannya dengan para frater ini. Orang tua gadis itu baru meninggal 1 minggu yang lalu karena dibunuh rampok dan kini ia tinggal sendirian penuh ketakutan. Keesokan harinya, pada waktu mereka mau berangkat, seorang frater berkata: “Aku akan tinggal bersama gadis ini. Aku bukan murid Kristus yang sejati, kalau aku tidak berbelas kasih pada sesame”. Ia tidak melanjutkan perjalanan. Dua frater yang masih sisa akhirnya tiba di sebuah kampung kristiani. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa semua penduduk meninggalkan agama dan imannya dan berada di bawah pengaruh keyakinan lain. Seorang frater berkata: “Demi umat yang malang ini, aku harus tinggal di sini dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar yang pernah mereka imani dulu. Dia tidak melanjutkan perjalanan. Frater yang kelima akhirnya sampai di keuskupan selatan dan di sana ia ditahbiskan menjadi imam dan diminta oleh Uskup menjadi Bapa Rohani di seminari tinggi. Seorang guru kebijaksanaan dan olah rohani berkata: Beberapa tahun yang lalu aku bertekad mencari Tuhan. Berkali-kali aku berhenti di jalan. Selalu maksudku sangat mulia: Untuk memperbaharui ibadat, untuk memperbaharui jemaat, untuk meningkatkan tafsir KS, untuk meningkatkan amal kasih, untuk mengembangkan teologi yang berarti bagi umat dsb. Sayang, lebih mudah menenggelamkan diri dalam karya apa pun bahkan dalam karya keagamaan daripada bertahan terus mencari Tuhan. Dalam hidup ini kita sering mengalami berbagai cobaan dan godaan. Sering godaan-godaan itu tidak jahat, pada dasarnya baik dan bernilai. Tetapi hal-hal itu menjadi tidak baik, kalau kita mulai memutlakkannya dan mengabaikan hal-hal atau nilai-nilai yang lebih penting, lebih pokok, ialah Kerajaan Allah. Pada zaman ini kita mengalami banyak hal yang saling berbenturan. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak mudah menjaga kedekatannya dengan tuhan, apalagi mengalami bahwa Allah sebenarnya tetap hadir di tengah-tegah manusia. Kita dihadapkan pada kecenderungan untuk menukar nilai-nilai Kerajaan Allah dengan tawaran yang menjanjikan seperti: kekuasaan, kenikmatan, dan harta. Mari kita bersama Yesus tetap mengutamakan Allah dalam hidup seperti yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Manusia tidak hanya hidup dari makanan saja, tetapi dari Sabda Allah…. Engkau harus menyembah Allah saja…. Jangan mencobai Tuhan Allahmu…..”

Spritualitas
Psikologi godaan dan cara mengatasi godaan
Baca: manusia pertama digodai. Kej 3
Jelas sekali strategi godaan yang dipakai iblis dan yang mengakibatkan kehancuran umat
manusia. Coba kita menarik beberapa kesimpulan dari kejadian itu.
a. Si penggoda mendekati manusia. Tidak selalu ada di samping kita seperti Malaekat Pelindung. Dalam Injil (Lk 4,13) kita baca bahwa setelah iblis menggodai Yesus ia mundur meninggalkanNya. Terkadang ia tiba-tiba muncul untuk menggodai; sering mendekat secara lihai dan licik dan menawarkan godaan melalui pertanyaan yang meyakinkan jiwa.
b. Melontarkan pertanyaan dengan halus. ”mengapa Allah melarang kamu memakan buah dari pohon firdaus ini?”. Dia tidak langsung menggoda, tetapi mengarahkan diskusi ke arah yang berbahaya dimana kita mudah kalah! Inilah cara iblis mengoda, selalu! Ia belum mengajak melakukan dosa, Cuma mempertanyakan larangan dari Allah. Contoh: dengan orang yang mudah jatuh dalam godaan sensualitas ia bertanya: “apakah benar Allah melarang sama sekali mencicipi kepuasaan itu? Dengan orang yang tidak tahan makanan ía bertanya: apakah saudara tidak boleh menikmati makanan itu? Apa salahnya? Itu semua alami… saudara butuh makanan yang bergizi. Dll.
c. Jawaban jiwa. Kalau jiwa menyadari bahaya dialog ini dan mengarahkan perhatiannya ke yang lain, maka iblis akan meninggalkan kita. Tetapi kalau jiwa mulai berbicara menghadapi bahaya besar. “Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kamu makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-rengah taman, Allah berfirmun: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati (Kej 3,6-7).” Perempuan itu sebenamya sudah tahu bahwa tidak boleh itu dan ini, tetapi masih dipersoalkan… berarti meragukan hukum Tuhan, disepelekan…..
d. Lalu Iblis Iangsung menawarkan dosa. Jiwa telah membuang waktu untuk mempersoalkan hukum Tuhan, maka iblis menjadi berani dan menawarkan dosa. ‘Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang Jahat!.” Disini terletak kelicikan iblis yang selalu mengatakan bahwa di belakang dosa terdapat kebahagiaan (kalau kamu makan, kamu tahu tentang yang baik dan yang jahat! Tidak pernah iblis rnemperlihatkan racun di belakang dosa. Paling paling nanti bisa mengaku…! Kalau jiwa menerima tawaran ini, sudahlah nasibnya bagaimana…
e. Keraguan. Dikatakan dalam kutipan tadi: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon ilu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipulu pohon itu menarik hati karena memberi pengertian”. Hati mulai gemetar, jiwa tidak mau melanggar hukum Tuhan, tetapi buah itu sangat menarik… Perlawanan ini terlalu berat bagi jiwa, ia tidak bisa tahan lama.
f. Kemauan kita mau… “Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Jiwa akhirnya menyerah kepada godaan. Dan kadang-kadang menjerumuskan orang lain dalam dosa.
g. Kekecewaan. Kenyataan dosa bahwa tidak pernah dosa itu akan sebagus seperti nampak selama godaan. Setelah melakukan dosa, jiwa merasakan kekecewaan besar dan keputusasaan. “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.” Akhirnya jiwa menyadari bahwa ia kehilangan segala-galanya, ia kelihatan telanjang di hadapan Allah. Tanpa Rahmat, tanpa keutamaan-keutamaan, tidak lagi menjadi kediaman pantas Trinitas. Dalam kekecewaan total ini hanya iblis yang meringis dengan senang…
h. Malu dan penyesalan. Terakhir jiwa mendengar suara hati yang menegur. “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Jiwa merasa malu dihadapan Tuhan maka bersembunyi.

Sikap konkrit behadapan godaan.
Penting sikap jiwa - sebelum, selama dan sesudah - godaan. Sikap yang tepat akan membantu kita melawan godaan dan mengalahkan iblis.
Sebelumnya: Sikap ini dinasehatkan oleh Yesus sendiri: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mt 2641). Yaitu kewaspadaan dan doa.
Kewaspadaan: Iblis tidak pernah berhenti mencoba, ia tidak pernah putus asa (Sesudah iblis mengakhiri semua pencobaa itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik – Luk. 4: 13). Kesempatan apapun dimanfaatkannya, karena itu kita harus menjauhkan kesempatan yang ia tawarkan. Harus selalu mengendalikan diri. Tetapi kewaspadaan ini sendiri belum cukup, diperlukan
Doa: Kewaspadaan harus didukung oleh doa. Ketika para rasul gagal mengusir iblis, meeka bertanya kepada Yesus mengapa mereka tidak bisa, Yesus menjawab: ”Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa ( Mrk. 9:28). Memohon agar tidak jatuh dalam godaan (Bapa Kami). Malaekat pelindung diberikan untuk itu.
Selama. Hanya bertahan dan melawan. Tidak cukup bertahan tetapi harus juga melawan godaan. Bertahan dengan melakukan kebalikannya dari yang ditawarkan iblis. Contoh: godaan
mau menjelekkan orang dilawan dengan: puji orang. Mau mencuri, berilah sedekah. Dll. Kita melawan juga dengan mengarahkan perhatian kita ke yang lain. Kalau dengan demikian godaan tidak hilang…….. itulah bukti hahwa kita sedang berperang melawan si iblis, maka harus tetap bertahan.
Setelah. Dua kemungkinan
Kalau kita menang: kita bersyukur kepada Tuhan dan memohon lagi rahmatnya untuk selanjutnya.
Kalau kita kalah: dengan rendah hati memohon ampun kepada Tuhan dan mengaku dosa.

Berbahagialah dan Celakalah

February 10, 2007

Pada pendengaran pertama kata2 Yesus dalam Injil hari ini tidak masuk akal: berbahagialah yang miskin, yang lapar, yang menangis dan yang dianiaya. Siapa yang suka menjadi miskin? Mungkinkah seorang berbahagia, kalau perutnya kosong, kalau ia tidak mempunyai yang perlu untuk hidup? Air mata tanda kesedihan, bukan tanda kebahagiaan?
Tetapi saya kira, kata-kata Yesus itu satu hiburan bagi mereka yang duduk di kaki Yesus: petani2 kecil dari Galilea, nelayannelayan, pengemis, orang yang susah atau sakit. Mereka tidak dapat mengharapkan banyak dari orang-orang yang besar; sebaliknya sering darahnya dihisap orang yang kaya dan mereka dihina orang yang suci. Mereka mendengar Yesus mengatakan: Hai kamu orang yang merasa ditinggalkan, ditipu dan dipermainkan manusia; ingatlah, satu hal yang harus kamu sadari: Allah memperhatikan kamu dan akan membantu kamu. Dan apa yang menjadi hiburan bagi orang kecil, menjadi teguran bagi mereka yang kaya, yang hidup senang-senang, yang mencari jabatan dan kedudukan dan suka dipuji. Celakalah kamu, kalau kamu  mementingkan dirimu atas orang lain, menambah kekayaanmu dengan mengorbankan orang lain, kalau kamu ber-senang-senang  tak perduli akan nasib orang lain; mencari kedudukan untuk memerintah dan menuntut dengan sewenang-wenang tanpa melayani.
Tuhan akan memutar-balikkan semuanya: Lasarus, si pengemis, akan mendapat kelimpahan, orang kaya, yang tidak mau membagi makanan sedikitpun dengannya akan menderita kekurangan; yang menangis akan tertawa, dan yang bersenang-senang akan menyesal; di dalam kerajaan Allah yang kecil akan ditinggikan dan yang besar direndahkan.
Toh kita harus hati-hati dalam memahami ungkapan Yesus ini.
Maksud Yesus bukan mewartakan bahwa kelaparan, kemiskinan dan penderitaan sesuatu yang baik, yang dikehendaki Allah dan yang harus dicari setiap manusia. Justru sebaliknya, Allah tidak suka manusia menderita kekurangan dan tidak senang kalau manusia menangis. Juga bukan maksud Yesus mengatakan kepada orang yang menderita: bersabar saja dan bertahanlah, nanti di surga kamu akan berbahagia. Manusia harus berbahagia sekarang juga. Justru karena itu Yesus mengutuki orang-orang yang kaya, yang tidak mau membagi dan tidak mau membantu; karena itu Ia mengutuki orang yang senang-senang dengan tak perduli akan penderitaan orang lain.
Yesus  memutar-balikkan segala harga. Apa yang berharga dan dicari orang di dunia, belum pasti berharga di surga. Dan apa yang dianggap menyenangkan, belum pasti membahagiakan. Ada yang lebih penting daripada makanan, lebih berharga daripada harta kekayaan, dan yang lebih membahagiakan daripada kesenangan dan kehormatan. Mateus menambah: berbahagialah orang yang suci hatinya, yang murah hati, yang membawa damai. Pendek kata, yang berbahagia ialah orang yang menghargai sesamanya diatas segala sesuatu. Manusia lebih penting daripada uang, jabatan, kehormatan atau hidup senang2. Karena itu celakalah orang yang mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri. Tetapi berbahagialah yang rela membagi rezeki dengan yang tak mempunyai, yang mengorbankan kesenangannya demi kebahagiaan orang lain.
Dengan demikian juga jelas bahwa bukan setiap orang miskin dengan sendirinya orang yang terpuji dan bukan setiap orang kaya akan celaka. Juga diantara orang miskin ada yang jahat, yang cuma mementingkan diri dan mudah sekali mengorbankan sesamanya. Dan diantara orang kaya dan berkuasa ada juga yang baik: orang yang bekerja keras, berlaku jujur, rela berbagi, dan suka membantu. Semoga kita menjadi orang-orang yang disebut berbahagia oleh Yesus, Tuhan kita……

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here