Dua Ekor Tikus

May 5, 2007

Di dalam got yang gelap hiduplah dua ekor tikus yang saling bersaudara. Suatu saat kedua ekor tikus ini melihat sebuah roti keju dari lubang sebuah selokan. Tikus-tikus ini ingin sekali memakannya tetapi sayang lubang selokan itu tertutup oleh jeruji besi yang sangat kuat. Kedua tikus ini berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan jeruji besi itu dengan gigi-gigi mereka yang tajam tetapi gigi mereka mulai rusak karena jeruji besi itu terlalu keras bagi gigi mereka yang kecil. Kedua ekor tikus ini kecapaian, dan butuh istirahat. Tikus pertama berkata dalam hatinya: “Aku tidak akan menyerah, setelah ini aku akan menghancurkan jeruji besi itu dengan sekuat tenagaku. Pantang menyerah adalah pangkal dari keberhasilan !” Tikus kedua termenung dan berpikir : ” Aku akan kehilangan semua gigiku jika aku nekat menggigiti jeruji itu. Ada baiknya kalau aku mengambil jalan lain saja untuk mendapatkan roti keju itu.” Setelah beristirahat sejenak, tikus pertama mulai menggigiti lagi jeruji besi itu dengan sekuat tenaga sedangkan tikus kedua mundur diri dari usahanya. Melihat tikus kedua mundur diri tikus pertama mulai mengejek saudaranya itu katanya : “Kamu itu sifatnya mudah menyerah dan tidak ulet bekerja, mana mungkin kamu bias berhasil dalam kehidupanmu?” Tikus kedua tidak mempedulikan ejekan saudaranya, dia mundur mencari jalan lain ke tempat roti keju itu. Akhirnya tikus kedua berhasil memperoleh jalan ke tempat roti keju itu sedangkan tikus pertama kelelahan dan hancur giginya karena menggigiti jeruji besi itu.
————————————————–
Teman-teman cerita ini merupakan cerita yang agak kontradiktif tetapi yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah hendaklah kita memakai kejelian dan kecerdasan kita untuk memecahkan masalah kita dan bukan hanya mengandalkan keuletan dan kerajinan kita untuk bekerja. Pantang menyerah cukup baik, tetapi jika tanpa kecerdasan semuanya sia-sia, maka pakailah kecerdasan kita.

Aroma Pra Paskah

February 28, 2007

Setiap hari, dalam perjalanan pulang dari kantor, aku mempunyai ritual yang sangat menyenangkan. Perjalanan yang macet membuatku harus melewati ‘jalan tikus’ yang sempit. Tapi di jalan itulah aku justru menemukan kesenangan baru yang selalu membuat aku dan suamiku tersenyum. Di pertigaan yang sempit, di teras sebuah rumah, ada seorang penjual sate ayam yang rupanya cukup laris karena kulihat pembelinya cukup banyak setiap sorenya. Nah..ketika melewati penjual sate di pertigaan tersebut, mobil kami harus berbelok perlahan. Saat itulah kubuka kaca jendelaku dan langsung berhamburan masuk aroma sate ayam yang sangat harum ke dalam mobilku. Makin lama kaca jendelaku kubuka, maka makin banyak pula aroma harum yang masuk. Aroma sate ayam kesukaanku, yang bisa membuat perutku menagih untuk diisi. Suamiku selalu tersenyum melihat aku yang sangat menikmati aroma itu, karena dia sendiri sebetulnya tidak suka sate ayam. Saat itu hanya aromanya saja yang bisa kunikmati, karena mobil kami tidak mungkin berhenti untuk parkir hanya untuk membeli makanan kesukaanku itu. Tak apalah, pikirku. Toh nanti aku dapat membelinya di tukang sate langgananku yang dekat dengan rumahku
Hingga pada suatu sore, kulihat seorang anak lelaki kecil penjual koran yang berbaju lusuh, berdiri tak jauh dari tukang sate tersebut. Badannya begitu kurus dan dekil. Sesekali matanya menatap penjual sate dan para pembelinya, tapi dia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Aku yakin dia pasti juga sedang menikmati aroma sate itu, sama seperti aku. Tapi kami berbeda dalam banyak hal. Aku bisa membeli sate itu setelah pulang, atau mungkin membeli makanan lain yang kusuka juga. Uang di dompetku cukup untuk membeli sate bagi diriku sendiri, anak-anakku di rumah dan juga bagi anak kecil penjual koran tersebut. Tapi anak itu, pasti di otaknya masih sibuk berpikir. Kalau aku membeli sate, untung yang kudapat dari hasil menjual koran pasti berkurang. Berarti uang yang harus kuberikan kepada ibuku juga berkurang. Berarti ibuku juga harus mengurangi jatah belanjaannnya untuk membeli makanan buatku dan saudara-saudaraku. Tegakah aku? Hanya demi seporsi sate yang kuinginkan? Betapa dia harus menahan keinginannya sedemikian rupa. Itu yang ada di pikiranku ketika melihat dia, anak lelaki kecil penjual koran, yang berdiri di dekat tukang sate.
Aku tetap membuka kaca jendela dan membiarkan aroma itu masuk seperti biasanya. Tapi kini kuhirup dengan rasa pedih. Aku bisa menikmati sate itu, tidak hanya aromanya, tanpa rasa khawatir. Tapi anak lelaki kecil itu, mungkin dia hanya bisa menikmati aromanya saja.
Malam harinya, kulihat sebuah acara yang menarik di televisi. Tentang hipnotis. Seorang penghipnotis yang bisa membuat banyak orang berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan sang penghipnotis itu, hanya dengan mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Sungguh hebat! Tapi sungguh mengerikan, mengingat banyak kejahatan juga yang sudah terjadi karena hipnotis. Kemudian aku berpikir, maukah sang penghipnotis itu melakukan keahliannya dengan tujuan yang lebih baik. Misalnya dia menghipnotis aku, supaya aku berpikir dan bertindak seperti anak lelaki kecil penjual koran yang tadi kulihat. Mungkin aku bisa lebih memahami penderitaannya, kesedihannya, kemiskinannya, keterbatasannya. Mungkin dengan begitu aku lebih mampu berempati. Tapi kupikir itu semua juga akan sia-sia. Karena setelah aku sadar dari pengaruh hipnotis itu, maka aku akan segera lupa apa yang sudah terjadi selama aku dihipnotis. Dan itu artinya, aku juga akan lupa bahwa tadi aku sempat menghayati penderitaan sesamaku, meski cuma sebentar. Jadi, perlukah aku dihipnotis? Hanya sekedar untuk melihat bahwa masih banyak kemiskinan dan penderitaan di sekitarku? Apakah dalam keadaan sadar, aku tak bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri? Ataukah mata hatiku telah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini, dimana aku harus berpantang dan berpuasa, aku masih harus berpikir-pikir kesenangan macam apa yang akan menjadi pantanganku. Kadang-kadang kusiasati juga supaya aku tak terlalu ‘menderita’ di masa pra paskah ini. Padahal masa ini begitu singkatnya, hanya seperberapa dalam satu tahun.
Hati nuraniku rupanya harus lebih kuasah lagi. Hati nurani yang kadang tumpul melihat banyaknya anak-anak terlantar di jalan, anak-anak yang sudah harus berjuang dalam hidup ini. Bahkan hati nurani ini kadang hanya bisa menangis melihat penderitaan kaum miskin yang kebingungan mencari hutangan untuk mengobati sanak keluarganya yang terserang demam berdarah, wabah yang sedang melanda negeriku tercinta ini. Dan kematian pun menjemput karena tak ada sepeserpun uang untuk berobat ke dokter. Hati nurani yang hanya bisa menjerit ketika darah pun diperjualbelikan di atas penderitaan sesama. Selalu ada celah untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hati nurani telah mati.
Aku ada di sini, di depan komputer dan mengetikkan sesuatu yang sangat menyedihkan. Penderitaan. Kemiskinan. Pengendalian diri. Keterbatasan. Kematian. Hati nurani. Tumpul. Sungguhkah hati nuraniku sudah tumpul? Bahkan di masa pra paskah ini? Mengerikan. Bagaimana jadinya di masa-masa bukan pra paskah?

Adil Dan Penuh Kasih

February 24, 2007

Alkisah sebuah cerita mengenai seorang jenderal wanita yang bernama jenderal Shameela. Suatu ketika saat ia memimpin sepasukan untuk berperang diperbatasan, komandannya melaporkan bahwa bahan makanan mereka telah dicuri. setelah berpikir cukup lama sang jenderal akhirnya mengambil keputusan kalo pencurinya harus dicari dan dihukum cambuk ! ternyata selidik punya selidik pencurinya adalah ibu sang jenderal. jenderal Shameela dengan berat tetap memutuskan bahwa hukuman besok akan tetap dilaksanakan. anak buahnya bertambah segan padanya karena jenderal tersebut terkenal dengan keadilannya. besoknya saat upacara hukuman akan dimulai, ia mendekati para algojo dan memberitahu mereka untuk menghukum sesuai dengan peraturan. saat cambuk itu dilayangkan, sang jenderal memeluk mamanya sehingga jenderal Shameela yang terkena cambukannya itu. begitulah kasih Kristus buat kita. selain adil, ia juga penuh kasih. apabila manusia tahu berbuat yang terbaik untuk orang yang disayangi apalagi Tuhan kita Yesus Kristus. saat aku kehilangan pegangan dan kehilangan cinta, cerita ini kembali menguatkan aku ! semoga dengan demikian, para saudara-saudariku dalam Kristus semoga cerita ini dapat menguatkanmu ! Tuhan memberkati kita semua

Batu Kecil

February 10, 2007

Pada suatu hari seorang rekan kita berjalan di sebuah jalan desa yang berkelok dan mendaki. Waktu itu pagi-pagi benar dan dia ingin menghadiri Misa di sebuah gereja yang agak jauh dari tempatnya. Dia mengenakan mantel berwarna coklat, wajahnya tampak mengantuk dan  sandalnya menyeret tanah sehingga debu beterbangan dibelakangnya.
Baru berjalan sepuluh menit dia melihat jam arlojinya menunjukkan pukul 05.40 padahal Misa akan dimulai pukul 06.00. Wah bisa terlambat nih. Lagipula sudah waktunya sarapan pagi tetapi dia lupa membawa bekal. Dia mulai merasa panas hati, bahkan sedikit bingung memikirkan perjalanannya yang masih agak jauh, sudah terlambat, dinginnya pagi dan "mengapa" harus membuat perjalanan itu. Dia samasekali tidak mempunyai konsentrasi sehingga kakinya terantuk batu yang terletak tepat di tengah jalan. Dia bahkan tidak melihat batu itu karena hanyut oleh pikiran dan keprihatinannya. Ujung jarinya pun terluka dan terasa sakit
"Apa sebabnya batu itu ada disini ?", pikirannya berpindah pada topik yang baru. "Mengapa batu itu tepat berada di tengah jalan yang dilewatinya ? Apakah ada seseorang yang dengan sengaja meletakkan batu itu disitu ?" (Batu bertambah besar). Pasti ada yang sengaja meletakkan batu itu disitu sehingga ia terantuk. (Batu bertambah lebih besar). Ada orang yang tidak suka dengan dia. (Batu itu sekarang menjadi begitu besar sehingga merintangi seluruh jalan). Pikirannya mulai menghitung nama orang-orang yang tidak menyukainya dan barangkali tidak dapat bergaul dengannya.
Pada saat itu batu sudah menjadi seperti sebuah gunung yang besar. Rekan kita ini akhirnya duduk di pinggir jalan dibawah naungan sebatang pohon, memandang gunung raksasa yang menghalangi semua usahanya dan mengacaukan rencananya. Di jalan yang sama itu lewat seorang wanita dan melihat rekan kita yang sedang kebingungan. Wanita itu yang ternyata salah seorang umat yang hendak pergi juga ke Misa pagi itu. Ia mendekatinya dan menanyakan apa yang menjadi masalahnya. Akhirnya dikatakannya seluruh cerita tentang keinginannya, maksud baiknya dan bagaimana ia terluka dan dirintangi oleh sebuah gunung besar yang dipasang oleh seseorang di jalan itu. Wanita itu menyediakan sedikit waktu untuk berbincang-bincang, lalu ia pergi ke tengah jalan. Diambilnya sebuah batu kecil dan dilemparkannya ke seberang jalan. Rekan kita ini sangat terkejut keheranan. Ketika dia meninggalkan tempat kejadian dia memperhatikan bahwa gunung itu ternyata hanyalah sebuah batu kecil, tidak cukup besar untuk mencegah ia melanjutkan perjalanannya menghadiri Misa menemui Yesus yang sudah menantinya. Karena itu, jangan biarkan batu-batu kecil itu menghalangi langkah mewujudkan semua rencana baik anda

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here