Perasaan Tertekan

February 28, 2007

Tanya:
Romo, banyak orang Katolik pergi ke gereja diliputi perasaan tertekan. Mungkin telah terjadi pertengkaran hebat di satu rumah atau ada tarik-menarik karena beda agama, atau karena sakit yag dipaksakan, dsb.
Menurut Romo, apakah doa-doa dan persembahan hati dan jiwa mereka dalam perayaan Ekaristi dapat berkenan pada Tuhan. Atau dapatkah kita tidak usah ke gereja karena keberatan-keberatan tsb.?

Jawab:
Pertama, kita menyadari betapa berharganya rahmat yang dilimpahkan Tuhan melalui Sakaramen Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi dihadirkan kembali seluruh hidup Yesus, terutama sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Ekaristi adalah Sakramen paling istimewa di atara 7 sakramen. Ibarat kita akan menerima hadiah 1 Milyar rupiah, apakah akan kita sia-siakan begitu saja dengan tidak dating menerimanya hanya karena alasan sepele seperti hati tertekan, pertengkaran, ada tamu, sakit ringan dsb?
Kedua, Gereja memang meminta umatnya untk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bertemu dengan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi (1 Kor 11:28). Persiapan ini menyangkut seluruh diri manusia, yaitu hati, jiwa, akal budi (Bdk. Hukum terutama, Mat.22:37). Maka jika ada dosa-dosa berat atau mematikan, seseorang perlu mengakukan dosanya terlebih dahulu sebelum menerima Tuhan dalam Ekaristi. Perlu diingat bahwa Allah itu sedemikian mulia sehingga sebenarnya kita tidak pernah sungguh-sungguh pantas untuk menerima-Nya. Kita juga tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Karena itu, dalam pertemuan dengan Tuhan dalam Ekaristi, iman kitalah yang berperan memohon Roh Kudus berdoa untuk kita dengan kata-kata yang tak terucapkan (Roma 8:26). Hati yang tidak enak akibat pertengkaran atau karena baru menerima tamu, kita letakkan di samping terlebih dahulu, supaya dengan iman kita mampu membuka hati dan menerima kedatangan Tuhan.
Pertemuan dengan Tuhan bukan soal perasaan. Maka jangan biarkan perasaan yang kacau balau, kering, dan seolah-olah hampa sama sekali, membuat kita menarik diri atau menghindari Tuhan. Dalam bagian “persembahan”, kita justru bisa mempersembahkan seluruh keadaan actual kita kepada Tuhan dan berkeluh kesah kepada-Nya. Yang diperlukan adalah iman. Perlu diingat bahwa sakramen-sakramen bukan hanya mengandaikan iman, tetapi juga memupuk dan meneguhkan iman. Sakrame dimaksudkan juga untuk menguduskan manusia. Karena itu, asalkan kita berkehendak baik dan sudah berusaha sebaik mungkin, maka kekurangsiapan kita atau perasaan yang kacau balau justru akan ‘diluruskan’ oleh rahmat Tuhan. Maka, kita bisa mengambil hikmah dari perkataan sang perwira: “Tuhan, saya tidak layak menerima Tuhan di dalam rumahku, katakana saja sepatah kata, maka jiwaku akan sembuh”.
Ketiga, iman priadi ini kita satukan dengan iman Gereja dalam Ekaristi. “Iman Gereja mendahului iman perorangan. Bersatu dengan iman Gereja iman kita akan diperkuat, diperteguh dan dikembangkan.

Gereja Merayakan Pertobatan St. Paulus

February 10, 2007

 

Tanya :
Romo, pada tgl. 25 Januari lalu Gereja merayakan pertobatan St. Paulus.  Saya ingin memahami apa yang sebenarnya terjadi pada waktu Yesus menampakkan diri kepada Saulus di jalan menuju Damsyik. Menurut Kis. 9:7 para pengiring Saulus mendengar suara Yesus, tetapi tidak melihat seorang jua pun. Sedangkan menurut Kis 22:9 mereka melihat cahaya namun suara Yesus tidak mereka dengar. Jadi, para pengiring Saulus ikut mendengar suara atau tidak?

 

Jawab :
Benar, bahwa ada perbedaan antara Kis 9:7 dengan Kis 22:9 mengenai mendengar atau tidaknya rombongan Saulus terhadap suara Yesus. Sayang, tidak mungkin bisa dipastikan, mana versi yang benar-benar sesuai dengan sejarah. Sebab seperti buku-buku lain dari Alkitab detil-detil sejarah dalam Kisah Para Rasul tidaklah penting bagi Lukas, penulis Kisah ini. Tujuan Lukas adalah mewartakan hal-hal yang penting saja, dalam hal ini pertobatan Paulus. Bisa jadi dia memang sudah menemukan kisah pertobatan Paulus dalam beberapa versi yang berbeda dalam soal detilnya dan sebagai variasi dia membiarkan  perbedaan tersebut pada waktu mengisahkan pertobatan Paulus itu sampai tiga kali (Kis. 9:3-9, Kis. 22:3-.. dan Kis. 26:9-…). Namun dari ketiga versi itu dapat dilihat hal-hal yang sama, yakni: Paulus diliputi cahaya dari sorga, mendengar Yesus bersabda, lalu ia bertobat. Kiranya para pengiring Saulus dalam batas tertentu ikut merasakan pengalaman yang luar biasa yang didapat Paulus, tetapi bagaimana persisnya pengalaman itu sulit dipastikan. Justru karena pengalaman rombongan Paulus tidak begitu penting, maka kisah mengenai pengalaman mereka juga tidak seragam. Tidak jelas apakah mereka ikut rebah ke tanah (26:14) atau hanya Paulus yang rebah (9:4, 22:7)? Apakah mereka ikut diliputi cahaya atau tidak dsb. Maka dari itu usaha beberapa ahli tafsir untuk menjelaskan perbedaan-perbedaa tersebut tidak memuaskan dan nyatanya berbeda dari satu ahli ke ahli lain

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here